Di sisi eksternal, dinamika Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) diuji oleh keputusan The Fed yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75-4 persen pada 16 September 2026, kenaikan perdana sejak Juli 2023.
Langkah pengetatan moneter AS ini dipicu inflasi domestik mereka yang bertahan di atas target 2 persen, ditambah ancaman inflasi global akibat eskalasi konflik Timur Tengah yang melambungkan harga minyak jenis Brent melampaui USD100 per barel.
Imbas tekanan eksternal turut membayangi nilai tukar. Secara kumulatif (year-to-date), mata uang rupiah telah terdepresiasi sebesar 6,8 persen sepanjang tahun berjalan.
Meskipun rupiah sempat menguat ke kisaran Rp17.500-Rp17.600 per dolar AS pada pekan kedua September, volatilitas kembali timbul akibat capital outflow seiring ekspektasi penguatan suku bunga The Fed.
LPEM UI juga mencatat arus modal asing yang keluar dari Surat Berharga Negara (SBN) menembus USD750 juta pada 15 September. Di saat bersamaan, pasar saham mencatatkan aksi lepas portofolio oleh investor asing sebesar USD80 juta, sehingga total outflow portofolio berada di kisaran USD270 juta.
Walau menghadapi gelombang tekanan global, ketahanan eksternal Indonesia dinilai masih terjaga. Hal ini tecermin dari posisi cadangan devisa nasional per Agustus 2026 yang menguat ke level USD146,5 miliar, naik dari posisi Juli 2026 yang sebesar USD145,3 miliar.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.