Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Inflasi dan Geopolitik Jadi Risiko Global, OJK Ungkap Kondisi Sektor Keuangan RI

Anggie Ariesta , Jurnalis-Senin, 05 Oktober 2026 |19:05 WIB
Inflasi dan Geopolitik Jadi Risiko Global, OJK Ungkap Kondisi Sektor Keuangan RI
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi Ungkap Kondisi Sektor Keuangan. (Foto: Okezone.com/OJK)
A
A
A

JAKARTA - Stabilitas sektor jasa keuangan nasional dinilai tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter global.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan melambat dibandingkan dengan 2025. Meski demikian, pertumbuhan tersebut masih berpotensi melampaui proyeksi awal berkat dukungan investasi dan perdagangan berbasis teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Menurut Friderica, momentum pertumbuhan ekonomi global masih menghadapi sejumlah risiko eksternal yang dapat menghambat proses pemulihan.

"Namun demikian, keberlanjutan momentum pertumbuhan masih menghadapi tantangan dari kenaikan inflasi global akibat eskalasi konflik geopolitik yang kembali menaikkan harga minyak, serta very strong El Nino yang berpotensi mendorong kenaikan harga pangan dan komoditas pertanian," ujar Friderica dalam Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil RDKB September 2026 yang digelar secara virtual, Senin (5/10/2026).

Friderica menjelaskan, tekanan inflasi global tersebut mendorong bank sentral di sejumlah kawasan untuk mempertahankan suku bunga kebijakan pada level tinggi dalam waktu lebih lama (higher for longer). Kondisi tersebut terjadi antara lain di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang.

Pasar juga memperkirakan tren suku bunga tinggi masih akan berlanjut hingga akhir 2026 dan memasuki 2027.

Kondisi tersebut turut mendorong imbal hasil (yield) obligasi pemerintah global mencapai level tertinggi dalam satu dekade terakhir. Yield obligasi di Amerika Serikat dan Eropa meningkat ke level sebelum krisis keuangan 2008, sedangkan di Jepang mencapai level sebelum 1997.

Kenaikan tersebut juga dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan pembiayaan utang pemerintah serta penerbitan obligasi jangka panjang oleh perusahaan teknologi besar (hyperscalers) untuk mendukung ekspansi infrastruktur AI.

Di tengah ketidakpastian global, indikator makroekonomi domestik Indonesia justru menunjukkan daya tahan yang kuat, salah satunya ditopang oleh inflasi yang tetap terkendali.

Friderica mengatakan, stabilnya inflasi memberikan dampak positif terhadap daya beli dan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.

"Di domestik, indikator terkini menunjukkan kondisi perekonomian yang kuat dengan inflasi masih stabil. Terjaganya inflasi mendorong permintaan domestik dan tingkat konsumsi masyarakat tetap kuat dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional," paparnya.

Daya tahan perekonomian Indonesia juga mendapat pengakuan dari lembaga internasional. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 0,5 persen.

"Sejalan dengan hal tersebut, OECD juga meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 sebesar 0,5 persen. Tentunya, hal ini mencerminkan kepercayaan global terhadap daya tahan perekonomian nasional," pungkas Friderica.

OJK memastikan akan terus memperkuat pengawasan dan menjaga stabilitas industri jasa keuangan agar tetap berkontribusi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement