JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat 29 rencana penawaran umum dalam pipeline dengan total nilai indikatif mencapai Rp26,47 triliun per akhir September 2026.
Tingginya minat korporasi menghimpun dana melalui pasar modal diharapkan menjadi salah satu penopang pencapaian target penghimpunan dana nasional yang dipatok sebesar Rp250 triliun hingga akhir tahun.
OJK mencatat minat korporasi untuk menghimpun pendanaan melalui pasar modal tetap tinggi menjelang akhir 2026. Hal itu tercermin dari masih adanya sejumlah rencana aksi korporasi yang akan melantai di bursa domestik dalam beberapa waktu mendatang.
"Saat ini pada pipeline terdapat 29 rencana Penawaran Umum dengan total nilai indikatif mencapai Rp26,47 triliun, yang diharapkan dapat menopang pencapaian target penghimpunan dana sebesar Rp250 triliun hingga akhir tahun," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (6/10/2026).
Hingga akhir kuartal III 2026, penghimpunan dana melalui berbagai instrumen penawaran umum telah mendekati target tahunan yang ditetapkan regulator.
Meski demikian, pencapaian target hingga akhir tahun tetap bergantung pada kondisi pasar keuangan dan pertimbangan pelaku usaha dalam menentukan waktu penerbitan.
"Secara kumulatif nilai Penawaran Umum telah mencapai Rp186,03 triliun, dan kami terus mendorong pemanfaatan pasar modal sebagai alternatif pembiayaan dengan tetap mengedepankan kualitas keterbukaan informasi serta pelindungan investor," kata Friderica.
Realisasi penghimpunan dana sebesar Rp186,03 triliun secara tahun berjalan atau year-to-date (ytd) berasal dari tujuh Penawaran Umum Perdana Saham (IPO), 18 Penawaran Umum Terbatas (PUT/rights issue), 11 Penawaran Umum Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk (EBUS), serta 123 Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) EBUS.
OJK menilai pencapaian target penghimpunan dana hingga akhir 2026 akan dipengaruhi oleh dinamika pasar sekunder, minat investor, serta pertimbangan emiten terkait momentum penerbitan dan biaya pendanaan.
Kinerja bursa saham sepanjang September 2026 cukup menantang akibat eskalasi tensi geopolitik di kawasan dan berlanjutnya tren kenaikan suku bunga acuan global. Kondisi tersebut menekan pergerakan indeks acuan dan mendorong investor asing melepas kepemilikan aset.
"Meskipun IHSG terkoreksi ke level 6.071,14 dan investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp10,24 triliun, resiliensi dan likuiditas pasar modal domestik terpantau tetap manageable," jelas Friderica.
Tekanan global menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 6,96 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) dan merosot 29,79 persen secara ytd. Aksi jual bersih investor asing tercatat sebesar Rp10,24 triliun, berbalik dari posisi Agustus 2026 yang mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp1,19 triliun.
Sementara itu, rata-rata bid-ask spread saham relatif stabil di level 1,20 persen dibandingkan 1,17 persen pada bulan sebelumnya. Namun, Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) turun menjadi Rp14,94 triliun dari Rp15,86 triliun pada Agustus 2026.
Dinamika serupa terjadi di pasar obligasi. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) turun tipis 0,23 persen secara mtm dan 0,41 persen secara ytd menjadi 439,05.
Rata-rata imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) naik 14,12 basis poin secara mtm seiring dengan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah global. Sementara itu, investor asing mencatatkan net sell di pasar SBN sebesar Rp0,34 triliun secara mtm, dibandingkan net buy Rp15,35 triliun pada Agustus 2026.
Sebaliknya, aliran dana investor asing di pasar EBUS korporasi mencatatkan net buy sebesar Rp0,91 triliun secara mtm. Posisi tersebut berbalik dari net sell sebesar Rp0,02 triliun pada bulan sebelumnya.
Di sektor pengelolaan investasi, nilai aset kelolaan atau Asset Under Management (AUM) terkoreksi 1,55 persen secara mtm dan 3,65 persen secara ytd menjadi Rp1.004,68 triliun per akhir September 2026.
Penurunan juga terjadi pada Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana yang turun 2,42 persen secara mtm dan 5,66 persen secara ytd menjadi Rp637,07 triliun. Penurunan tersebut diiringi aksi penarikan dana investor atau net redemption sebesar Rp10,43 triliun secara mtm.
Di sisi lain, diversifikasi instrumen investasi dan penambahan jumlah investor terus menunjukkan tren positif di tengah fluktuasi pasar surat utang dan reksa dana. Penguatan ekosistem digital turut mendorong perluasan penetrasi kepemilikan efek di kalangan masyarakat.
"Basis pemodal terus menguat dengan pertumbuhan mencapai 32,17 juta investor per September, didukung hadirnya inovasi produk baru seperti tujuh ETF Emas senilai Rp105,63 miliar," ujar Friderica.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.