“Dengan adanya Pertamina Grand Prix Of Indonesia ini karena demand yang begitu banyak, jadi kita menaikkan sedikit harga dari harga pada umumnya. Dalam satu minggu terakhir ini peningkatan jumlah okupansi pada homestay sangat tinggi untuk seluruh wilayah Kuta dan sekitarnya,” ujar Bani, pemilik Mong Bungalows.
Pada kondisi normal, tarif kamar di homestay miliknya berkisar Rp350 ribu hingga Rp500 ribu per malam, tergantung musim. Namun, tingginya permintaan selama periode MotoGP membuat tarif mengalami penyesuaian.
Bani mengapresiasi program tersebut karena memberikan tambahan keterampilan yang dibutuhkan untuk mengelola homestay secara lebih profesional. Terlebih, sebagian pengelola homestay tidak memiliki latar belakang pendidikan pariwisata.
“Dengan adanya program ini, kami sebagai owner memiliki keahlian yang tersertifikasi dan juga bisa meningkatkan mutu dari homestay kami, baik pelayanan maupun tata kelola homestay yang lebih profesional,” katanya.
Bagi pelaku homestay lainnya, dampak ekonomi yang dirasakan bahkan lebih besar. Reddy Mardani atau Dani, perwakilan Mango Room Mandalika, mengatakan, harga kamar yang biasanya dipatok sekitar Rp600 ribu per malam meningkat hingga Rp2 juta selama gelaran Pertamina Grand Prix Of Indonesia. Seluruh kamar yang ditawarkan dengan harga tersebut pun laku terjual.
“Walaupun event-nya hanya tiga hari, kami bisa menjualnya mungkin tiga kali lipat. Kami menjual dengan harga Rp2 juta per malam dan itu laku semua,” ucap Dani.