Menurut AHY, integrasi digitalisasi dan AI harus bermuara pada efisiensi, produktivitas, serta peningkatan daya saing nasional demi mewujudkan kemakmuran bersama. Penerapan konektivitas pita lebar dan energi berkelanjutan tidak terlepas dari sarana transportasi fisik darat, laut, dan udara untuk menggerakkan rantai pasok logistik dari aktivitas niaga elektronik.
Oleh karena itu, koordinasi bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terus dipacu untuk merampungkan bentangan jaringan transmisi.
Akselerasi jaringan digital lintas wilayah kepulauan menuntut pembiayaan masif yang melibatkan kemitraan modal dari pelaku usaha di dalam maupun luar negeri.
"Setelah kita hadirkan e-commerce, aktivitas itu tetap membutuhkan transportasi darat, laut, dan udara, sekaligus membutuhkan investasi besar untuk menggelar submarine cables, fiber optic, hingga mobile networks," ujar AHY.
Selain penggelaran jaringan, kebutuhan fasilitas komputasi berkinerja tinggi serta infrastruktur data yang tangguh dan berkelanjutan sangat krusial untuk menjamin pemrosesan data yang cepat dan berkapasitas besar.
Kendati demikian, lonjakan kebutuhan pusat data menuntut pasokan energi yang sangat besar dibandingkan mesin pencari konvensional.
Pemerintah menyoroti pentingnya kalkulasi matang pada pembangunan fasilitas komputasi agar tidak memicu persoalan lingkungan hidup maupun perebutan sumber daya dasar.
"Data center memakan energi dalam jumlah luar biasa besar sehingga harus dihitung cermat agar tidak menimbulkan masalah lingkungan, apalagi sampai berkompetisi dengan pemenuhan air bersih masyarakat," tegas AHY.
Untuk mewujudkan transformasi digital yang inklusif, Kemenko Infrastruktur saat ini merancang integrasi tata ruang kawasan. Pendekatan pembangunan berorientasi transit (transit-oriented development/TOD) mulai diterapkan guna menyatukan kawasan hunian, sentra pendidikan, perkantoran, area komersial, industri, hingga pusat logistik secara terpadu.
Penataan ruang perkotaan terpadu tersebut dipersiapkan untuk merespons gelombang urbanisasi yang diprediksi kian masif dalam dua dekade mendatang.
"Menuju 2040–2050 sekitar 70 persen penduduk akan hidup di kota besar, maka tata ruang wilayah harus dipastikan menghadirkan konektivitas, produktivitas, serta prosperity for all," urai AHY.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.