Advertisement
Advertisement

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.135 per Dolar AS

Anggie Ariesta , Jurnalis-Senin, 26 Oktober 2026 |15:38 WIB
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.135 per Dolar AS
Rupiah Hari Ini (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Senin (26/10/2026), turun 55 poin atau sekitar 0,30 persen ke level 18.135 per dolar AS.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa salah satu sentimen datang dari eksternal yakni serangan oleh kelompok Houthi Yaman yang berafiliasi dengan Iran terus berlanjut sepanjang akhir pekan, dan mengaku bertanggung jawab atas serangan yang menargetkan bandara serta fasilitas minyak Arab Saudi pada hari Sabtu.

“Arab Saudi telah mencegat sejumlah rudal dan pesawat nirawak (drone) tambahan. Namun, situasi keamanan di sekitar Laut Merah juga memburuk seiring dengan pergerakan kelompok Houthi menuju Selat Bab el-Mandeb, sebuah jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Menurut berbagai laporan, mediator dari Qatar bertolak ke Teheran pada hari Minggu sebagai bagian dari upaya untuk meredam ketegangan regional, yang dilakukan dalam koordinasi dengan Washington.

Inisiatif diplomatik ini memberikan sedikit kelegaan bagi pasar setelah lonjakan harga baru-baru ini yang dipicu oleh kekhawatiran akan konflik yang lebih luas.

Selain itu, Reuters melaporkan bahwa para pejabat senior dari Arab Saudi, Turki, dan Pakistan dijadwalkan bertemu dengan rekan-rekan mereka dari Iran di Teheran pada hari Senin untuk membahas koordinasi regional.

 

Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Fox News pada hari Minggu bahwa kini saatnya untuk mengambil keputusan, apakah akan mencapai kesepakatan dengan Teheran atau "mengakhirinya sama sekali". Pernyataan ini memunculkan kemungkinan terjadinya kembali permusuhan setelah konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa jika rasionalitas dikedepankan, Amerika Serikat tidak akan melancarkan serangan lagi.

Agenda ekonomi AS minggu ini yang harus diperhatikan adalah pertemuan The Fed yang akan dimulai pada hari Selasa dan rilis keputusan keputusan kebijakan pada hari Rabu (Kamis dini hari WIB), yang akan diikuti oleh rilis indikator inflasi pilihan The Fed, yaitu indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) inti, pada hari Kamis.

Dari sentimen dalam negeri, kekhawatiran fiskal kembali meningkat seiring dengan kenaikan harga minyak global, mengingat Indonesia berstatus sebagai importir neto minyak.

Kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit APBN melalui peningkatan biaya impor minyak dan beban subsidi energi serta kompensasi kepada Pertamina.

Meskipun kenaikan harga minyak dapat meningkatkan penerimaan negara dari sektor migas.Manfaat tersebut berpotensi tidak cukup untuk mengimbangi kenaikan belanja energi, terutama apabila harga BBM domestik tetap dipertahankan untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas inflasi.

Dengan demikian, persistensi harga minyak yang tinggi dapat mempersempit ruang fiskal dan meningkatkan risiko terhadap pencapaian target defisit APBN.

Apabila merujuk pada sensitivitas APBN 2026 terhadap perubahan asumsi dasar ekonomi makro, kenaikan yield SBN dan depresiasi rupiah adalah dua dari tiga asumsi makro yang sensitif terhadap pelebaran defisit APBN.

Kenaikan setiap 0,1 persen yield SBN dapat memperlebar defisit sebesar Rp1,9 triliun, sedangkan depresiasi rupiah setiap Rp100 per dolar AS bisa menambah defisit Rp800 miliar.

Masalahnya, gejolak pada yield SBN dan rupiah dibarengi dengan kenaikan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) yang memiliki sensitivitas terbesar kepada defisit APBN. Setiap kenaikan USD1 per barel bahkan dapat memperlebar defisit hingga Rp6,8 triliun.

Asumsi ICP sampai dengan akhir September 2026 sudah meleset jauh dari target APBN USD70 per barel ke USD91,9 per barel.

Ditambah dengan depresiasi rupiah yang belakangan terjun bebas, apalagi setelah pengumuman MSCI. Biaya impor energi bisa membuat kantong negara semakin kering, hal ini terbukti dari belanja subsidi dan kompensasi sampai 30 September 2026 yang telah mencapai Rp376,8 triliun atau naik 54,1 persen (YoY).

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.130-Rp18.180 per dolar AS.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement