JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 10 poin atau 0,06 persen ke level 18.147 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat (30/10/2026).
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa salah satu sentimen datang dari eksternal yakni pasar kembali bergejolak setelah The Wall Street Journal melaporkan bahwa kepala Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, memberikan penjelasan kepada Presiden Donald Trump mengenai opsi militer terhadap Iran di Gedung Putih bersama dengan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan sejumlah pejabat senior lainnya.
“Menurut laporan tersebut, pertemuan itu membahas blokade yang terus dilakukan oleh AS serta kemungkinan dimulainya kembali operasi tempur berskala besar,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Trump telah mengisyaratkan bahwa serangan baru mungkin terjadi setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November. Pada hari Rabu, saat ditanya apakah ia merencanakan serangan tambahan, Trump menyatakan bahwa "segala kemungkinan bisa terjadi."
Perkembangan ini telah meredupkan harapan akan penyelesaian diplomatik, bahkan di saat Washington tengah berupaya menjalin kontak baru dengan Teheran untuk menghidupkan kembali negosiasi yang bertujuan mengakhiri konflik.
Wakil Presiden AS JD Vance telah menghubungi pejabat keamanan Iran, Mohsen Rezaei, dalam upaya untuk menghidupkan kembali negosiasi, sementara pihak penengah tengah menyusun kerangka kerja yang mungkin digunakan untuk mengakhiri konflik tersebut.
Namun, Teheran dilaporkan telah menolak usulan penyelesaian tersebut, sehingga prospek tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat menjadi tidak pasti.
Saudi Press Agency melaporkan pada hari Kamis bahwa sistem pertahanan udara Arab Saudi berhasil mencegat satu lagi rudal balistik yang diluncurkan oleh kelompok Houthi di Yaman yang berafiliasi dengan Iran menuju Provinsi Timur kerajaan tersebut. Insiden ini menyusul klaim pihak Houthi mengenai serangan terhadap kilang minyak Ras Tanura minggu ini.
Sementara Indeks Harga PCE inti, yang tidak mencakup sektor makanan dan energi naik 0,3 persen secara bulanan. Secara tahunan, inflasi inti naik menjadi 3,1 persen dari 3,0 persen di bulan Agustus, sesuai dengan perkiraan.
Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal ketiga tercatat tumbuh 3,4 persen secara tahunan, melampaui perkiraan sebesar 3,2 persen dan meningkat dari 2,2 persen pada kuartal sebelumnya. Hal tersebut memperkuat ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga pada bulan Desember, CME FedWatch Tool bahkan menunjukkan probabilitas kenaikan sebesar 83 persen.
Dari sentimen dalam negeri, ketegangan politik yang terus berlanjut di tengah aksi protes mahasiswa di berbagai kota besar sejak awal Oktober menjadi salah satu faktor yang menambah ketidakpastian ekonomi Indonesia.
Aksi demonstrasi tersebut mencerminkan adanya ketidakpuasan sebagian masyarakat terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk penanganan kebakaran hutan, persoalan lingkungan, serta penggunaan anggaran negara untuk berbagai program pemerintah.
Oleh karena itu, perkembangan politik ini perlu diperhatikan karena stabilitas politik memiliki hubungan erat dengan kepercayaan investor dan kondisi perekonomian nasional.
“Pemerintah perlu membuka ruang dialog dengan mahasiswa dan masyarakat, mengevaluasi kebijakan yang menjadi tuntutan demonstran, serta menjaga agar aksi penyampaian pendapat berlangsung aman dan kondusif,” kata Ibrahim.