"Program ini menjangkau empat moda transportasi sekaligus, yaitu kereta api, kemudian angkutan laut, penyeberangan, dan angkutan udara. Tahun lalu itu anggarannya 387 miliar. Nah, tahun ini itu sama, empat moda, kemudian target penumpangnya, dan target anggarannya adalah 883 miliar," kata Dradjad.
"Jadi pemerintah mengalokasikan lebih dari dua kali lipat anggaran untuk stimulus menjelang Nataru. Jadi ini karena bukti manfaatnya sudah sangat banyak," imbuhnya.
Secara teknis, stimulus diskon transportasi Nataru mencakup fasilitas pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 100 persen ditanggung pemerintah (DTP) untuk tiket pesawat kelas ekonomi rute domestik. Fasilitas PPN DTP ini berlaku untuk periode penerbangan 22 Desember 2026 hingga 10 Januari 2027, dengan masa pembelian tiket yang sudah dibuka sejak 20 Oktober 2026.
Pada moda darat, PT Kereta Api Indonesia (Persero) memberlakukan diskon tarif sebesar 30 persen bagi lebih dari 1 juta calon penumpang kereta api kelas ekonomi komersial di wilayah Jawa dan Sumatera Utara untuk periode keberangkatan 22 Desember 2026 hingga 4 Januari 2027.
Sementara itu, PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) memberikan potongan tarif dasar sebesar 30 persen untuk tiket kelas ekonomi di seluruh rute kapal penumpang yang berlaku mulai 17 Desember 2026 hingga 10 Januari 2027.
Adapun pada moda penyeberangan, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menggratiskan tarif jasa pelabuhan bagi penumpang pejalan kaki serta kendaraan Golongan II dan Golongan IVA di 14 pelabuhan penyeberangan terpilih, terhitung sejak 22 Desember 2026 hingga 10 Januari 2027.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.