Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BPS Didesak Keluarkan Cabai dari Perhitungan Inflasi

Martin Bagya Kertiyasa , Jurnalis-Jum'at, 07 Januari 2011 |15:35 WIB
BPS Didesak Keluarkan Cabai dari Perhitungan Inflasi
ilustrasi Foto: okezone
A
A
A

JAKARTA - Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati akan terus mendesak Badan Pusat Statistik (BPS) untuk menghapus komponen harga cabai dari perhitungan inflasi. Menurutnya, BPS sudah berjanji untuk me-review kemungkinan tersebut.

"BPS berjanji untuk me-review kembali, kan begini, bundle of commodity kan selalu di-review, konsistensinya terus di-review juga, memang layak enggak sih," ungkap Anny saat di temui di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (7/1/2011).

Anny mengungkapkan bundle of commodity harus bisa menangkap arah inflasi. "Inflasi itu impact-nya banyak ke kesejahteraan dan sebagainya jadi memang bundle of commodity-nya harus menangkap itu," tambahnya.

Selain itu, Anny mengemukakan metode yang digunakan juga beragam karenanya pemilihan metode juga harus diperhatikan. "Kemudian teknis perhitungannya, ada last payers, ada pass serve itu yang digunakan metode mananya," imbuhnya.

Lebih lanjut, Anny menilai jika nantinya model tersebut dijalankan, maka bisa membalikkan sinyal dan mengubah tren, dengan demikian maka perhitungan yang ada menjadi tidak cukup valid.

"Statistik itu kan kalau ada outlayer, data bisa tiba-tiba naik, tiba-tiba turun, kalau kita me-run model, itu bisa membalikkan sign, bisa mengubah tren, perhitungan menjadi tak cukup valid untuk menangkap," tambahnya.

Karena maenurut Anny tingginya inflasi karena persoalan komoditas, hanya saja cabai menjadi salah satu pemicunya. "Bukan persoalan cabai, tapi persoalan semua komoditas. Trigger-nya cabai kan di sana ada beberapa jenis cabai yang masuk. Ada cabai merah ada cabai rawit atau apa. Padi masuk beras masuk. Jadi supaya mereka melihat kembali lah," tandasnya.(adn)

(Rani Hardjanti)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement