Perbankan di Uni Eropa menghadapi tantangan yang sangat serius karena hasil stress test terbaru memperlihatkan cukup rentannya sistem perbankan di Uni Eropa dari ancaman krisis ekonomi global.
Kondisi fiskal masing-masing negara anggota Uni Eropa juga memperlihatkan ancaman bagi sistem perbankan. Apalagi bank sentral Uni Eropa (ECB) tampaknya juga semakin terangsang untuk meningkatkan tingkat suku bunganya.
Masuknya IMF dalam percaturan penyelamatan Uni Eropa menyebabkan pengawasan perbankan di Uni Eropa menghadapi bukan saja dilema ekonomi politik, tetapi juga moral hazard.
Sementara Jerman dan Prancis terus bersaing mencari popularitas di tengah-tengah ancaman krisis fiskal di beberapa negara anggota Uni Eropa lainnya dan krisis perbankan akibat rontoknya perbankan dunia pada 2008. Stress test yang dilakukan merupakan bentuk sintesis dari krisis tersebut, namun masih dianggap lemah.
Graham Bishop, seorang analis independen dari European Financial Services, mengatakan: “If they again come up with something that is manifestly fudged, it won’t impress anyone. By the time the results are published, European policy makers will have had to either substantially expand their financial support mechanisms for countries or move to restructure banking debts.”
Inilah permasalahan dari pengawasan perbankan di Uni Eropa yang dilematis bagi perekonomian Uni Eropa itu karena menuntut bukan saja dana yang besar, melainkan juga strategi yang berpotensi saling crowding out.
Uni Eropa memiliki sistem pengawasan pasar keuangan yang homogen di mana perbankan merupakan satu bidang khusus yang diawasi pengawas yang khusus.
Sekalipun Uni Eropa memiliki aturan yang seragam dalam aturan full disclosure termasuk format laporan, tapi keandalan dari aturan tersebut masih dalam uji coba. Buktinya krisis ekonomi pada 2008 cukup membuat sistem perbankan di Uni Eropa pontang-panting.
Bahkan banyak pihak yang memperkirakan bahwa krisis ekonomi di Uni Eropa yang berkaitan dengan utang akan semakin membesar di tahuntahun mendatang khususnya pada 2012.
Kelemahan
Keterkaitan antarbank antarnegara di dalam Uni Eropa maupun dengan di luar Uni Eropa merupakan ancaman krisis yang belum akan mereda untuk beberapa tahun mendatang.
Keterkaitan antara lemahnya produktivitas perekonomian di beberapanegara Uni Eropa juga tidak seiring dengan kebijakan moneter maupun nilai tukar yang mendukung negara periferi tersebut. Akibatnya terjadi dualisme dari kebijakan makroekonomi yang menular kepada dualisme kebijakan perbankan.
European Banking Authority (EBA) merupakan bagian dari European System of Financial Supervisor yang mengurusi pengawasan perbankan dengan menggantikan peran Committee of European Banking Supervisors. Namun, kontrol dari European Systemic Risk Board berada di bawah naungan bank sentral Uni Eropa dan bukan EBA yang memulai operasi pada Januari 2011 dengan markas di London.
Kelemahan EBA adalah munculnya konflik kepentingan dengan negara-negara Uni Eropa yang memiliki dominasi kekuatan ekonomi politik dalam struktur kepemilikan EBA tersebut.
Tidaklah mengherankan jika stress test yang dilakukan beberapa minggu lalu juga penuh dengan kritik dari bank-bank yang gagal memenuhi standar permodalan yang wajar.
EBA menerapkan bahwa walaupun manajemen risiko operasional masih merupakan disiplin risiko yang relatif muda, berbagai praktik telah dikembangkan di beberapa bagian dari tata kelola internal, terutama dalam struktur tata kelola yang digunakan untuk mengelola risiko operasional. Struktur tata kelola risiko bank harus sesuai dengan ukuran dan kompleksitas bisnisnya.
Struktur tata kelola yang diadopsi banyak bank mengandalkan pada tiga garis pertahanan: manajemen bisnis yang sesuai, fungsi risiko operasional perusahaan yang bersifat independen, dan verifikasi dan validasi yang independen.
Pelaksanaan ketiga baris pertahanan ini bervariasi bergantung pada pendekatan manajemen risiko bank dan fleksibilitas yang disediakan pengawas nasional.
Di sinilah kelemahan EBA! Fleksibilitas yang diberikan di dalam EBA mencerminkan baik masa pertumbuhan relatif disiplin risiko operasional maupun keinginan EBA untuk mengeksplorasi cara terbaik untuk memperoleh estimasi sensitif risiko dari eksposur risiko operasional.
Sementara industri telah membuat kemajuan yang signifikan dalam pemodelan risiko operasional, berbagai praktik terus menjadi luas, dengan keragaman pendekatan pemodelan yang diadopsi oleh bank-bank EBA.
Perbedaan dalam pendekatan pemodelan, baik tercermin dalam perkiraan korelasi yang berbeda, asumsi distribusi, atau fitur penting lain dari model, jelas memengaruhi metodologi individu dari bank-bank EBA dan, pada akhirnya, jumlah modal yang dihasilkan dari penerapan EBA. Larosiere mengatakan dalam laporannya yang baru lalu:
“We must work with our partners to converge towards high global standards, through the IMF, FSF, the Basel committee and G20 processes. This is critical. But let us recognize that the implementation and enforcement of these standards will only be effective and lasting if the European Union, with the biggest capital markets in the world, has a strong and integrated European system of regulation and supervision.”
Format Baru
Apa yang terjadi di Uni Eropa berpotensi untuk menjadi standar dari pengawasan dan regulasi perbankan dunia. Dengan demikian, keputusan yang dibuat bank pada fitur penting dari model EBA yang mereka gunakan harus didukung dengan analisis kuantitatif dan kualitatif dan mencerminkan profil risiko operasional bank. Sementara fleksibilitas memungkinkan pemodelan untuk mencerminkan profil risiko bank secara individu.
Selain itu juga meningkatkan kemungkinan bahwa bank dengan profil risiko yang serupa bisa menampung berbagai tingkat modal di bawah EBA jika mereka mengandalkan pendekatan dan asumsi pemodelan yang berbeda secara substansial.
Untuk itu, migrasi dari sistem disclosure menuju common reporting (corep) bukan tanpa biaya. Proses ini juga memerlukan waktu yang cukup lama. Bukannya tidak mungkin dalam proses ini terjadi kesenjangan antara kondisi transparansi harapan dan realitas! Krisis ekonomi kali ini tampaknya akan merupakan “Kawah Candradimuka” bagi pengawasan perbankan di Uni Eropa.
ACHMAD DENI DARURI
President Director
Center for Banking Crisis