Menko Luhut Ajak Petinggi IMF 2018 Mengunjungi Palu dan Lombok

Vanni Firdaus Yuliandi, Jurnalis
Senin 08 Oktober 2018 11:50 WIB
Menteri koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan (Foto: Facebook)
Share :

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan sibuk menyelenggarakan konferensi tingkat tinggi di Bali. Tapi di tengah keriuhan pertemuan IMF-World Bank, dia mengingatkan untuk terus memberi bantuan pada korban bencana di Sulawesi Tengah.

“Berbagi itu bukan soal jumlahnya, tapi lebih kepada simpati kita kepada sesama yang membutuhkan. Maka meski, kami tetap ingin berkontribusi. Karena kami sangat prihatin dan tidak mungkin lupa terhadap saudara-saudara kita di Palu,” ujarnya yang dikutip Okezone dari Facebook resminya, Senin (8/10/2018).

Baca Juga: Korban Gempa dan Tsunami Palu Dapat Restrukturisasi Kredit

Kendati demikian, saat dirinya berada di Bali, dia langsung terbang menuju Palu. Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, Dan Keamanan tidak sendiri, dia mengajak the Secretary of the Fund and the International Monetary and Financial Committee IMF Mr. Jianhai Lin untuk mengunjungi posko pengungsian di Palu.

“Tanpa pikir panjang Mr.Jianhai Lin menerima ajakan saya. Dari awal mereka memang mau, tapi tidak tahu bagaimana caranya menjangkau Palu, Maka jadilah kami menumpang pesawat Hercules A-1341 milik TNI-AU menuju ke sana. Di sana kami juga bertemu Rodrigo Chaves, petinggi World Bank yang datang bersama Wakil Presiden Pak Jusuf Kalla,” ucapnya.

Selama berada di Palu, Menteri Luhut dan Mr. Jianhai datang untuk melihat bagaimana pemerintah Indonesia menangani kondisi pascagempa Palu.

“Kami juga bersama-sama menyerahkan sumbangan kepada para pengungsi. Kami mengunjungi 4 titik lokasi di RSU Anutapura Palu, Perumnas Balaroa, Pegunungan Gawalise, dan Posko Bantuan di kantor Detasemen TNI-AU Mutiara Palu,” katanya.

“Saya dilapori bahwa jumlah pengungsi di posko Pegunungan Gawalise Kelurahan Duyu berjumlah 2.843 kepala keluarga. Sedangkan di Posko Bantuan TNI-AU terdapat 577 jiwa,” lanjutnya.

Baca Juga: Gempa Donggala, Jusuf Kalla: Apa yang Dibutuhkan, Pemerintah Akan Siapkan

Menteri Luhut mengungkapkan bahwa ia selalu mendengarkan keluh kesah para pengungsi, salah satunya ketersediaan air bersih dan fasilitas MCK disetiap posko pengungsian.

“Saya bersyukur bahwa Menteri ESDM Pak Jonan sudah menyampaikan kesediaannya untuk menyediakan bor sumur. Detasemen Zeni Bangunan (Denzibang) dari TNI juga menyatakan siap mendukung pembuatan fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus). Di sana saya juga memerintahkan jajaran untuk membantu mendata daerah-daerah yang belum terjangkau bantuan,”ucapnya

Sepulang dari Palu, Menteri Luhut memberikan banyak usulan untuk korban bencana Palu yang akan disampaikan kepada Presiden Joko Widodo.

“Usulan saya kepada Pak Presiden Jokowi di antaranya pembangunan pusat-pusat logistik di 4 atau 5 titik aman. Isinya adalah alat-alat berat, kantung jenazah, pemurni air, genset, dan juga makanan. Harus ada semacam quick reaction force atau pasukan reaksi cepat yang dapat menjangkau daerah bencana maksimal 3 x 24 jam,” ujarnya.

Baca Juga: Mentan Pantau Distribusi Bantuan Korban Gempa Palu

Sembari menunggu usulannya disampaikan Presiden Jokowi, Menteri Luhut terus melakukan survei dan studi untuk mendukung usulan tersebut yang sudah dan sedang berlanjut. Para ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pun dilibatkan.

“Saya libatkan juga Profesor Fumihiko Imamura ahli tsunami dari Tohoku University Jepang yang saja temui sedang meneliti daerah pantai di Teluk Palu yang tersapu tsunami,” katanya.

Menteri Luhut berharap dengan semua bantuan yang diberikan ini penanggulangan bencana akan lebih baik ke depannya sehingga ada banyak nyawa yang bisa diselamatkan.

“Bicara tentang bencana, kita tidak bisa menungu-nunggu lama untuk bergerak. Untuk itu kami mulai dari apa yang bisa kami berikan. Memberikan bantuan sumbangan adalah yang tercepat yang bisa dilakukan. Sedangkan untuk pemulihan total, perlu waktu tahunan untuk diselesaikan,” ucapnya.

Baca Juga: Ekonomi pun Ikut Diguncang Bencana Alam, Negara Rugi Rp22 Triliun

Sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritim, Luhut memang merasa harus melakukan sesuatu. Karena bencana dari laut seperti tsunami mengancam sekitar 150 juta orang penduduk yang hidup di pantai sepanjang 108.000 km.

“Palu sudah kami jangkau, selanjutnya giliran Lombok. Saya akan membawa rombongan IMF-WB ke sana besok, bertepatan dengan dimulainya Annual Meeting IMF-WB 2018. Mohon doa dan dukungan dari teman-teman sekalian agar seluruh acara dapat berjalan lancar dan membawa kebaikan bagi banyak orang,” pungkasnya.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya