Hal ini mulai terlihat pada pertumbuhan penjualan ritel yang sudah mencatat pertumbuhan positif pada bulan April, dengan pertumbuhan positif pertama sejak November 2019.
"Ini berarti konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari 57% terhadap perekonomian kita akan mulai kembali mencatat pertumbuhan positif pada kuartal dua ini," terangnya.
Menurutnya, kinerja ekspor yang sudah tumbuh positif pada kuartal pertama 2021 akan terus berlanjut pada kuartal dua ini. Karena menyusul pemulihan ekonomi negara-negara mitra dagang utama kita.
"Dampaknya pada volume permintaan dan harga komoditas ekspor unggulan meningkat signifikan," tambahnya.
Kemudian belanja pemerintah baik dari APBN reguler maupun stimulus juga dilihat makin membaik. Sisi investasi juga diprediksi akan membaik sejalan dengan prospek ekonomi yang makin baik kedepan. Serta ditambah suku bunga kredit rendah dan masih dalam tren menurun.
Faktor terakhir adalah low base akibat kondisi di kuartal dua 2020 lalu, ekonomi kita mengalami kontraksi yang cukup dalam sehingga memungkinkan terjadinya pertumbuhan tinggi di tahun ini.
"Dengan pertimbangan kondisi ini, maka kuartal dua ini ekonomi Indonesia diprediksi bisa tumbuh cukup pesat di kisaran 6% hingga 7% secara YoY," jelasnya.
(Dani Jumadil Akhir)