Dari 6 sektor yang masih underperform indeks, sektor yang memiliki potensi terbesar untuk outperform IHSG yaitu keuangan dan barang konsumsi cyclical.
Sebelumnya, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Agus Herta Sumarto pernah bilang, dinamika pergerakan harga saham berafiliasi politik di tahun 2022 lebih condong dikarenakan figur kedeketan dengan lingkaran penguasa.
"Saya kira pada tahun 2022 kemarin sebagian besar pergerakan harga saham yang berafiliasi politik lebih diakibatkan sentimen pelaku pasar terhadap kedekatan mereka ke lingkaran penguasa. Pada tahun 2022 kemarin saya kira tidak begitu banyak aksi korporasi di sektor riil yang dapat meningkatkan nilai fundamental perusahaan mereka," jelasnya.
Dia juga memprediksi di tahun 2023 di mana tahun politik lebih kuat karena mendekati pemilu, investor akan lebih berhati-hati dan condong memilih saham tak terafiliasi politik yang lebih aman. Tentu saja meski tak terlalu beresiko namun imbal balik diterima tidak akan terlalu besar.
"Pada tahun 2023, risiko untuk jenis-jenis emiten yang berafiliasi politik akan lebih besar. Investor mungkin akan jauh lebih berhati-hati dan akan lebih memilih saham-saham netral yang tidak berafiliasi politik dan pergerakan harga sahamnya murni dipengaruhi kinerja perusahaan. Saham jenis ini labih aman namun tentunya imbal hasil yang ditawarkan tidak begitu besar," jelasnya.
Apalagi saham yang terafiliasi dengan lingkaran politik disampaikan Agus masih akan menjadi bidikan para trader jangan pendek. Trader jangan pendek menganggap volatilitas harga saham tersebu akan tinggi dan memberikan keuntungan besar.
"Untuk para trader jangka pendek, saham-saham yang terafiliasi politik lebih menarik karena volatilitas harga saham-saham tersebut akan tinggi dan mereka berpotensi mendapatkan keuntungan dari volatilitas harga tersebut," pungkasnya.
(Zuhirna Wulan Dilla)