JAKARTA – Harga cabai rawit merah menembus Rp100.000 per kilogram usai Lebaran 2026. Kenaikan komoditas tersebut diketahui setelah Menteri Perdagangan, Budi Santoso, melakukan inspeksi bersama Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, di Pasar Minggu, pagi ini.
Menurut Mendag, lonjakan harga cabai rawit merah dipicu oleh faktor cuaca yang menghambat proses panen di tingkat petani.
“Ya, jadi problemnya kan kami sudah komunikasi dengan asosiasi petaninya. Problemnya memang cuaca, jadi salah satunya memanennya itu kan tidak bisa terus. Artinya, ketika hujan berhari-hari kan berarti tidak bisa memanen. Itu memang yang cabai, cabai rawit merah,” ujar Budi, Sabtu (28/3/2026).
Ia mengatakan, kenaikan harga hanya terjadi pada cabai rawit merah, sementara komoditas cabai jenis lainnya relatif stabil atau masih di bawah harga eceran tertinggi (HET).
“Tapi yang lain tidak ada masalah. Tadi kalau lihat cabai yang panjang keriting itu kan di bawah HET. Itu kan HET-nya 55, tapi tadi dijual 50. Jadi masih normal, masih bagus ya. Sebenarnya tidak ada masalah, itu memang yang cabai rawit merahnya,” jelasnya.
Selain faktor cuaca, Budi juga menyebut aktivitas pasar yang belum sepenuhnya pulih setelah Lebaran turut memengaruhi harga. Ia mengungkapkan, baru sekitar 50 persen pedagang yang kembali berjualan di pasar.
“Kemudian sekarang setelah Lebaran tadi memang informasi dari teman-teman di Pasar Minggu, kurang lebih mungkin baru 50 persen ya pedagangnya yang sudah datang,” katanya.
Meski demikian, ia memastikan ketersediaan bahan pokok secara umum masih aman.