Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp100 Ribu, Mendag: Terkendala Cuaca

Yuwantoro Winduajie, Jurnalis
Sabtu 28 Maret 2026 15:53 WIB
Menteri Perdagangan, Budi Santoso Merespons Tingginya Harga Cabai Rawit Merah. (foto: Okezone.com/IMG)
Share :

JAKARTA – Harga cabai rawit merah menembus Rp100.000 per kilogram usai Lebaran 2026. Kenaikan komoditas tersebut diketahui setelah Menteri Perdagangan, Budi Santoso, melakukan inspeksi bersama Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, di Pasar Minggu, pagi ini.

Menurut Mendag, lonjakan harga cabai rawit merah dipicu oleh faktor cuaca yang menghambat proses panen di tingkat petani.

“Ya, jadi problemnya kan kami sudah komunikasi dengan asosiasi petaninya. Problemnya memang cuaca, jadi salah satunya memanennya itu kan tidak bisa terus. Artinya, ketika hujan berhari-hari kan berarti tidak bisa memanen. Itu memang yang cabai, cabai rawit merah,” ujar Budi, Sabtu (28/3/2026).

Ia mengatakan, kenaikan harga hanya terjadi pada cabai rawit merah, sementara komoditas cabai jenis lainnya relatif stabil atau masih di bawah harga eceran tertinggi (HET).

“Tapi yang lain tidak ada masalah. Tadi kalau lihat cabai yang panjang keriting itu kan di bawah HET. Itu kan HET-nya 55, tapi tadi dijual 50. Jadi masih normal, masih bagus ya. Sebenarnya tidak ada masalah, itu memang yang cabai rawit merahnya,” jelasnya.

Selain faktor cuaca, Budi juga menyebut aktivitas pasar yang belum sepenuhnya pulih setelah Lebaran turut memengaruhi harga. Ia mengungkapkan, baru sekitar 50 persen pedagang yang kembali berjualan di pasar.

“Kemudian sekarang setelah Lebaran tadi memang informasi dari teman-teman di Pasar Minggu, kurang lebih mungkin baru 50 persen ya pedagangnya yang sudah datang,” katanya.

Meski demikian, ia memastikan ketersediaan bahan pokok secara umum masih aman.

 

“Dan kebutuhan pokok kita seperti beras, kemudian minyak, cabai, dan lain-lain tercukupi. Jadi saya kira semua bagus, pasokan tercukupi, dan kami akan terus memantau kebutuhan pokok sehari-hari,” tambahnya.

Pemerintah, lanjutnya, terus memantau perkembangan harga melalui sistem pemantauan berbasis digital. Menurutnya, pemerintah tidak hanya memantau pasar secara langsung, tetapi juga melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP).

“Jadi kami memang tidak hanya memantau ke pasar langsung, tetapi seperti sering saya sampaikan, kita punya SP2KP. Secara fisik, tim pusat mungkin tidak bisa ke pasar, tetapi teman-teman di daerah melalui kontributor kami memantau sekitar 550 titik pasar di 514 kabupaten/kota,” ungkap Budi.

(Feby Novalius)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya