IHSG Dibuka Melemah 1%, Terpental ke Level 6.900

Iqbal Dwi Purnama, Jurnalis
Senin 30 Maret 2026 09:19 WIB
IHSG Dibuka Melemah 1%, Terpental ke Level 6.900 (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 76,53 poin atau 1,08 persen ke posisi 7.020,53 pada perdagangan hari ini, Jakarta, Senin (30/3/2026). Bahkan, beberapa menit kemudian, IHSG terus melemah 1,61 persen ke level 6.900-an

Pelemahan IHSG terjadi seiring dominasi saham yang bergerak turun. Tercatat sebanyak 433 saham melemah, jauh lebih banyak dibandingkan 144 saham yang menguat, sementara 381 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat cukup besar mencapai Rp1,33 triliun dengan volume perdagangan sekitar 1,44 miliar saham.

Seluruh sektor saham terpantau berada di zona merah pada pembukaan hari ini. Sektor barang baku memimpin pelemahan dengan penurunan sekitar 1,96 persen, diikuti sektor infrastruktur yang turun 1,83 persen dan sektor non-primer yang melemah 1,77 persen. Sementara itu, sektor keuangan, properti, hingga teknologi juga kompak mengalami tekanan.

Sebelumnya, pergerakan IHSG diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan hari ini, Senin (30/3/2026) setelah menutup akhir pekan di zona merah.

Tim riset MNC Sekuritas menilai tekanan jual masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Dalam riset harian MNCS Daily Scope, IHSG disebut masih berada dalam fase koreksi teknikal sehingga berisiko bergerak turun menuju area 6.745 hingga 6.887.

"Kami memperkirakan, posisi IHSG saat ini masih berada pada bagian dari wave (v) dari wave [c] dari wave A pada label hitam sehingga IHSG masih rawan terkoreksi ke area 6.745-6.887," kata MNC Sekuritas.

 

Di sisi lain, Analis PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi memproyeksikan IHSG akan cenderung bergerak menyamping (sideways) di rentang 6.745 hingga 7.323.

Sentimen utama masih didominasi oleh bayang-bayang konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan de-eskalasi. Deadlock negosiasi ini telah mendongkrak harga minyak mentah ke level USD99 per barel dan harga batu bara menembus USD140 per ton.

"Pasar akan mencari sinyal apakah The Fed akan tetap pada jalur kebijakan yang hati-hati atau justru membuka ruang pengetatan lebih lanjut, yang dapat memperkuat dolar AS dan menekan aset berisiko, termasuk emerging markets seperti Indonesia," ujar Imam dalam analisisnya.

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya