JAKARTA - Rilis Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) KiTa yang tertunda menjadi sorotan. Pasalnya, keterbukaan informasi mengenai kinerja APBN dinilai sebagai instrumen vital untuk memelihara kepercayaan publik dan stabilitas pasar.
Dokumen APBN KiTa yang rutin dirilis setiap bulan sejak 2018 menjadi referensi utama bagi para pelaku ekonomi untuk melihat arah kebijakan fiskal pemerintah secara transparan.
Namun, penundaan konferensi pers APBN KiTa yang sedianya digelar pada 30 April 2026 menjadi perhatian para analis ekonomi. Langkah ini diharapkan dapat segera diselesaikan agar akses informasi publik tetap terjaga, mengingat pentingnya data fiskal bagi penilaian lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan Fitch.
Direktur Ekonomi CELIOS, Nailul Huda, menekankan bahwa penyampaian data yang tepat waktu merupakan fondasi bagi masyarakat dan investor dalam mengambil langkah ekonomi yang tepat. Ketersediaan informasi yang lengkap akan membantu menjaga optimisme dan meminimalisir ketidakpastian di pasar.
“Penundaan ini menunjukkan bahwa pemerintah menutupi kondisi terkait penerimaan, pengeluaran, dan defisit fiskal kepada khalayak luas. Padahal, informasi tersebut tidak hanya berguna bagi analis, akademisi, dan investor, tetapi juga masyarakat untuk menentukan keputusan ekonomi, salah satunya keputusan konsumsi barang,” ungkap Huda dalam keterangannya, Jumat (1/5/2026).
Ia menambahkan bahwa kejelasan informasi akan sangat membantu investor dalam memetakan arah kebijakan publik ke depan, yang pada akhirnya mendukung stabilitas ekonomi Indonesia.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, berpendapat bahwa keterbukaan informasi merupakan solusi terbaik meski kondisi sektor keuangan tengah menghadapi tekanan seperti pelemahan kurs rupiah. Dengan data yang terbuka, spekulasi di pasar dapat diredam dan kebijakan fiskal akan dipandang lebih kredibel oleh investor.