“Tapi secara pasokan kami pantau relatif bagus, secara prinsip sudah turun banyak. Pada saat menjelang Lebaran itu kan menjelang bulan puasa sampai Lebaran itu harga cabai rawit merah itu sudah di posisi Rp120.000-an di pasar. Sekarang sudah turun jauh,” ujarnya.
Ketut menambahkan, perbaikan kondisi tersebut terlihat dari jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) cabai rawit yang kini turun menjadi 91 daerah pada minggu pertama Mei 2026, setelah sempat mencapai 127 daerah pada minggu ketiga April. Ia menegaskan penurunan harga cabai rawit tersebut turut memberikan dampak positif terhadap pengendalian inflasi pangan nasional.
“Artinya secara inflasi dia sudah turun banyak. Kemudian di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) memang oke, tapi secara harga relatif sudah sangat banyak turun,” ucapnya.
Ketut menyebut kondisi pasokan cabai rawit nasional hingga akhir 2026 masih berada dalam posisi aman. Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional Bapanas per 5 Mei 2026, total produksi cabai rawit tahun ini diperkirakan mencapai 1,59 juta ton dengan total kebutuhan nasional sebesar 913,6 ribu ton. Dari proyeksi tersebut, stok akhir tahun diperkirakan masih tersisa sekitar 60,5 ribu ton.
Sementara itu, khusus periode Mei 2026, ketersediaan cabai rawit diproyeksikan mencapai 168,1 ribu ton, sementara kebutuhan nasional berada di kisaran 78 ribu ton. Neraca pasokan pada Mei diperkirakan masih surplus sekitar 90,1 ribu ton sehingga menjadi bantalan penting dalam menjaga stabilitas harga di pasar konsumen.
(Feby Novalius)