Sementara itu, Iwan Prajogi memaparkan strategi pada 2026. MedcoEnergi menyiapkan strategi besar untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia dengan value, focus, growth. Sebuah arah baru yang menitikberatkan pada pertumbuhan bernilai, ekspansi produksi dan penguatan investasi energi berkelanjutan.
"Ini adalah strategi tema yang kita pilih di tahun 2026 ini untuk memberikan guides buat kita prioritas-prioritas apa yang akan kita lakukan sebagai korporasi. Ini yang akan memberikan guidance kita di mana kita akan mengalokasikan kapital kita, di mana mengalokasikan biaya kita. Ini bisa dikatakan adalah framework kita untuk guide kita di tahun 2026 dan ke depan," ujar Iwan.
Saat ini MedcoEnergi memiliki tiga pilar bisnis utama, yakni oil and gas, clean power, serta copper and gold mining. Operasinya tersebar dari Aceh hingga Sulawesi dan diperkuat kehadiran internasional di tujuh negara yang terbagi dalam kawasan Asia Tenggara dan Timur Tengah.
Di sektor migas, perusahaan kini mengelola 27 aset, terdiri dari 16 aset produksi dan 11 aset eksplorasi serta pengembangan. Produksi MedcoEnergi didominasi gas bumi sebesar 72 persen, sedangkan minyak menyumbang 28 persen.
Komposisi tersebut dinilai menjadi strategi penting untuk menjaga stabilitas pendapatan sekaligus mendukung transisi energi nasional yang lebih rendah emisi.
Dalam empat tahun terakhir, produksi MedcoEnergi meningkat signifikan dari sekitar 94 ribu menjadi 163 ribu barel setara minyak per hari (barrel oil equivalent per day/boepd). Perusahaan menargetkan produksi mencapai 170 ribu boepd pada 2026.
Secara keseluruhan, produksi bruto MedcoEnergi kini mencapai lebih dari 350 ribu boepd, termasuk aset yang dioperasikan bersama mitra. Dari jumlah itu, lebih dari 250 ribu boepd berasal dari domestik.
Iwan menegaskan, MedcoEnergi kini menjadi salah satu produsen gas terbesar di Indonesia dengan kontribusi sekitar 21 persen terhadap total kebutuhan gas nasional.
“Jadi, kita adalah mature gas producer di Indonesia,” katanya.
Salah satu fokus utama perusahaan saat ini adalah memperkuat jejak operasi di Sumatera Selatan. Pada 2025, MedcoEnergi meningkatkan kepemilikan di Corridor PSC setelah mengakuisisi 24 persen participating interest milik Repsol. Langkah itu menambah produksi sekitar 25 ribu boepd.
Perusahaan juga mengakuisisi 45 persen kepemilikan operator di Sakakemang PSC yang diproyeksikan mulai beroperasi pada kuartal III-2027. Menurut Iwan, percepatan proyek Sakakemang merupakan bagian dari komitmen perusahaan terhadap keamanan energi nasional.
“Awalnya target operator sebelumnya mungkin 2028, tapi sebagai komitmen terhadap energy security Indonesia, kami percepat menjadi kuartal III-2027,” ujarnya.
Selain memperkuat migas, MedcoEnergi juga mempercepat pengembangan energi bersih. Pada 2025, perusahaan mengomersialkan proyek panas bumi Ijen fase pertama berkapasitas 35 MW dan kini melanjutkan pengembangan fase kedua hingga total kapasitas mencapai 70 MW.
Di sektor kelistrikan, MedcoEnergi memiliki 12 pembangkit dengan kapasitas terpasang lebih dari 1.000 MW, terdiri dari pembangkit gas, mini hydro, geothermal, dan solar PV.
Sementara di sektor tambang, perusahaan melalui kepemilikan 21 persen di Amman Mineral memperkuat hilirisasi mineral nasional lewat smelter berkapasitas 900 ribu ton per tahun.
Tak hanya mengejar pertumbuhan bisnis, MedcoEnergi juga memperkuat komitmen lingkungan dan keberlanjutan. Pada Maret 2026, rating ESG perusahaan dari MSCI meningkat dari AA menjadi AAA, level tertinggi dalam penilaian global tersebut. Pencapaian itu menempatkan MedcoEnergi di jajaran elite perusahaan migas dunia dalam aspek keberlanjutan dan pengelolaan lingkungan.
Bagi MedcoEnergi, masa depan energi tidak hanya ditentukan oleh besarnya cadangan migas, tetapi juga kemampuan perusahaan menjaga keseimbangan antara produksi energi, investasi teknologi, dan komitmen keberlanjutan. Hal ini merupakan simbol ketahanan energi.
Di tengah transisi energi global, langkah agresif MedcoEnergi menunjukkan bahwa industri migas Indonesia masih memegang peran penting sebagai fondasi ketahanan energi nasional. Di tengah dunia yang bergerak menuju energi baru, Indonesia menghadapi satu kenyataan: ketahanan energi tidak cukup hanya ditopang cadangan migas. Masa depan akan ditentukan oleh siapa yang paling cepat menguasai teknologi.