Data tersebut mendorong pelaku pasar meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat kembali memperketat kebijakan moneter pada akhir tahun ini. Saat ini, pasar memperkirakan sekitar 60 persen peluang kenaikan suku bunga pada Desember mendatang.
Dari sentimen domestik, Bank Dunia (World Bank) merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,0 persen pada 2026. Proyeksi terbaru tersebut lebih tinggi dibandingkan estimasi pada April lalu yang menempatkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) di level 4,7 persen.
Proyeksi pertumbuhan sebesar 5,0 persen pada tahun ini mencerminkan kinerja perekonomian pada kuartal I/2026 yang lebih kuat dari perkiraan.
Momentum positif tersebut mendorong pertumbuhan PDB mencapai 5,6 persen secara tahunan pada kuartal I/2026, yang merupakan pertumbuhan triwulanan tertinggi sejak kuartal II/2021. Kinerja tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang masih menjadi penggerak utama perekonomian.
Konsumsi rumah tangga didorong oleh momentum Ramadan dan Hari Raya Idulfitri, percepatan pembayaran tunjangan hari raya (THR) aparatur sipil negara (ASN), serta akselerasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sepanjang 2026, konsumsi swasta diperkirakan tetap tumbuh di kisaran 5,0 persen dengan dukungan stimulus fiskal pemerintah. Sementara itu, konsumsi pemerintah diproyeksikan tumbuh lebih tinggi, yakni mencapai 8,7 persen.