Dari sisi investasi, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) pada kuartal I/2026 juga tercatat tumbuh solid sebesar 6,0 persen.
Meski proyeksi pertumbuhan ekonomi direvisi naik, Bank Dunia memberikan catatan bahwa ketergantungan pemerintah pada konsumsi sebagai penopang pertumbuhan jangka pendek tetap mengandung risiko. Risiko tersebut berkaitan dengan ruang fiskal yang semakin terbatas serta potensi peningkatan beban subsidi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak global.
Selain itu, ketahanan ekonomi domestik juga diuji oleh gejolak sentimen pasar keuangan setelah pengumuman evaluasi indeks MSCI.
Berdasarkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp17.860-Rp17.910 per dolar AS. Dalam sepekan, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.780-Rp18.040 per dolar AS.
(Feby Novalius)