Rupiah Kian Melemah, Dekati Rp18.000 per Dolar AS! Ini Biang Keroknya

Anggie Ariesta, Jurnalis
Senin 28 September 2026 16:47 WIB
Rupiah Kian Melemah, Dekati Rp18.000 per Dolar AS! Ini Biang Keroknya (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS kian melemah dan mendekati Rp18.000 per dolar AS. Tercatat, Rupiah ditutup melemah 75 poin atau 0,42 persen ke level Rp17.978 per dolar AS pada akhir perdagangan hari ini.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa salah satu sentimen datang dari eksternal yakni Iran menyatakan tidak akan melunakkan syarat-syaratnya untuk membuka kembali Selat Hormuz. 

Usulan Iran tersebut memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari sembari negosiasi yang lebih luas dilanjutkan, dengan syarat Washington mencabut blokade angkatan laut, melonggarkan tekanan militer, menghapus sanksi atas penjualan minyak Iran, serta menyetujui gencatan senjata. Iran menyatakan tetap berkomitmen pada syarat-syarat tersebut meskipun Trump menolaknya.

“Kendati demikian, menurut laporan Axios, Trump mengatakan ia memperkirakan negosiasi dengan kedua belah pihak akan kembali berlangsung minggu ini. Qatar telah berperan sebagai penengah yang aktif berkomunikasi dengan kedua pihak dalam upaya menghidupkan kembali perundingan tersebut,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Jakarta, Senin (28/9/2026).

Situasi Selat Hormuz memanas, setelah delapan anggota Korps Marinir Amerika Serikat (AS) terluka setelah sebuah rudal jelajah antikapal Iran menghantam kapal yang mereka operasikan di Selat Hormuz. Serangan ini terungkap dari laporan NBC News pada hari Minggu, yang mengutip tiga pejabat Amerika. 

Para anggota Korps Marinir tersebut tidak mengalami luka serius. Namun, mereka dilaporkan mengalami gangguan akibat menghirup asap serta kemungkinan cedera otak traumatis setelah mengalami gejala seperti gegar otak, termasuk sakit kepala.

Menambah kekhawatiran terkait pasokan, pasukan Houthi yang didukung Iran di Yaman juga telah meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi dan kapal-kapal komersial di Laut Merah. Pada hari Sabtu, Arab Saudi menyatakan telah mencegat dua rudal balistik dan dua pesawat nirawak (drone) yang diluncurkan oleh kelompok Houthi; peristiwa ini terjadi hanya beberapa hari setelah mereka mencegat enam rudal yang ditujukan ke arah Taif dan wilayah Yanbu.

Agenda ekonomi AS akan jauh lebih padat pada minggu ini. Data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dijadwalkan rilis pada hari Rabu, diikuti oleh data ISM Manufacturing PMI pada hari Kamis dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada hari Jumat. Rilis data-data tersebut dapat memainkan peran penting dalam membentuk ekspektasi pasar menjelang pertemuan The Fed bulan depan.

Dari sentimen dalam negeri, Harga minyak dunia yang bertahan di atas USD90 per barel meningkatkan risiko terhadap perekonomian Indonesia. dampak kenaikan harga minyak terhadap Indonesia terutama terlihat melalui tiga jalur, yakni inflasi, fiskal, dan keseimbangan eksternal. 

Asumsi Indonesia Crude Price dalam APBN 2026 berada di USD70 per barel, sedangkan ICP Juli telah mencapai USD81,68 per barel. ICP pada kisaran USD80-90 per barel masih dapat dikelola apabila kenaikan berlangsung sementara. Namun, tekanan fiskal akan semakin besar jika ICP bertahan di kisaran USD90-100 per barel atau lebih selama beberapa bulan.

Dalam kondisi tersebut, pemerintah memiliki sejumlah opsi, mulai dari menambah subsidi dan kompensasi, melakukan realokasi belanja, hingga menyesuaikan harga energi domestik. Berdasarkan estimasi dalam dokumen fiskal pemerintah, setiap kenaikan ICP USD1 per barel dapat meningkatkan pendapatan negara sekitar Rp3,5-Rp4 triliun. Namun, belanja negara berpotensi naik sekitar Rp10,3 triliun, sehingga defisit dapat melebar sekitar Rp6,8 triliun.

Sebagai negara net oil importer, Indonesia menghadapi tekanan fiskal lebih besar ketika kenaikan harga minyak berlangsung lama.

 

Kondisi perekonomian akhir September tak lepas dari tantangan. Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. Keputusan diambil di tengah berlanjutnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Meski melemah, posisi cadangan devisa Indonesia yang tetap solid di kisaran USD146,5 miliar diharapkan mampu menjadi benteng pertahanan yang memadai untuk melakukan stabilisasi nilai tukar.

Langkah pelonggaran moneter dalam waktu dekat diproyeksikan makin terbatas. Hal ini disebabkan oleh laju inflasi bulan Agustus yang naik menjadi 3,19 persen secara tahunan dari posisi 2,88 persen pada bulan sebelumnya, ditopang oleh kenaikan komponen bahan makanan bergejolak dan inflasi inti, ditambah adanya potensi risiko dari kenaikan harga energi dunia serta ancaman fenomena cuaca El Nino terhadap ketersediaan pangan.

"Berdasarkan analisis tersebut, mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.900-Rp17.950 per dolar AS," katanya.
 

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya