Dari sentimen dalam negeri, Bank Indonesia membeberkan tiga instrumen yang digunakan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang dalam pekan ini kembali bergejolak, bahkan menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS kemarin yaitu kebijakan secara operasional, berupa instrumen spot, instrument DNDF (Domestic Non Deliverable Forward) maupun NDF (Non Deliverable Forward).
Sehingga bagi pelaku pasar dengan kebutuhan pemenuhan kewajiban impor maupun pembayaran impor yang dapat ditunda, bisa dilakukan dengan DNDF. Hal ini merupakan bagian untuk mendorong berkembangnya instrumen hedging.
Sementara, untuk pergerakan nilai tukar rupiah di pasar NDF([Non Deliverable Forward) yang berada di pasar luar negeri, transaksi tersebut tetap berjalan ketika pasar domestik Indonesia ditutup.
Selain itu, Menteri Keuangan Suhasil Nazara memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 dirancang secara pruden dan kredibel di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Pembahasan rancangan APBN (RAPBN) 2027 berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan fragmentasi perdagangan dunia yang mengganggu rantai pasok, meningkatkan volatilitas harga, hingga menambah tekanan inflasi.
Namun kita bersyukur bahwa di tengah tantang an global yang tidak mudah tersebut, fundamental ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang Kuat. Hal ini terbukti dari kinerja APBN hingga Agustus 2026 tetap solid. Pertumbuhan ekonomi Indonesia secara kumulatif pada semester I-2026 tercatat solid di level 5,45 persen (yoy), dengan pertumbuhan triwulan II mencapai 5,29 persen.
Pendapatan negara masih tumbuh hingga mencapai Rp2.055,6 triliun, setara dengan 65,2 persen dari target APBN. Hal tersebut menunjukkan APBN tetap menjadi instrumen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus melindungi masyarakat.
Sepanjang 2026, APBN digunakan secara fleksibel dan responsif untuk menghadapi berbagai tantangan, termasuk penanganan bencana, menjaga stabilitas harga serta ketersediaan energi dan pangan di tengah kenaikan harga minyak dunia dan ancaman El Nino.
"Berdasarkan analisis tersebut, diprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.890-Rp18.140 per dolar AS," katanya.
(Dani Jumadil Akhir)