Bungkam Dolar AS, Rupiah Hari Ini Menguat ke Rp17.894 per USD

Anggie Ariesta, Jurnalis
Rabu 30 September 2026 16:03 WIB
Bungkam Dolar AS, Rupiah Hari Ini Menguat ke Rp17.894 per USD (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 87 poin atau sekitar 0,48 persen ke level Rp17.894 per dolar AS pada akhir perdagangan hari ini.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa salah satu sentimen datang dari eksternal yakni Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menerima tanggapan AS melalui mediator Qatar di Doha terkait rencana tujuh hari yang bertujuan membangun kepercayaan antara Washington dan Teheran. 

“Pekan lalu, Iran mengajukan proposal tujuh hari yang menurut Araqchi dapat membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan lalu lintas maritim normal jika syarat-syarat yang diperlukan terpenuhi,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Presiden AS Donald Trump kemudian menolak proposal tersebut, yang memicu upaya mediasi lebih lanjut oleh Qatar. Para mediator menyampaikan tanggapan yang mereka terima dari Washington pada hari Senin saat bertemu dengan Araqchi dan timnya dalam perjalanan pulang dari Amerika Serikat, ujar pejabat tersebut.

Dokumen yang sedang dibahas itu menguraikan periode pembangunan kepercayaan selama tujuh hari yang bertujuan membawa kedua belah pihak kembali pada versi yang lebih baik dari nota kesepahaman yang disepakati pada bulan Juni, termasuk langkah-langkah konkret terkait program nuklir Iran, kata pejabat itu tanpa memberikan rincian lebih lanjut. 

Perbedaan pendapat berpusat pada urutan pelaksanaan langkah-langkah tersebut, bukan pada komponen-komponen rencana itu sendiri, tambah pejabat tersebut.

Presiden Fed New York, John Williams, menyatakan bahwa mereka tidak terburu-buru untuk menaikkan suku bunga. Williams menambahkan bahwa stabilitas harga merupakan "fondasi bagi perekonomian" dan inflasi diperkirakan akan mereda karena dampak guncangan ekonomi "sebagian besar telah berlalu.". 

Alberto Musalem (Fed St. Louis) menyatakan bahwa kebijakan saat ini "masih akomodatif," sementara Goolsbee mengatakan bahwa "inflasi yang persisten ibarat bermain api." Sementara itu, Gubernur Barr bersikap lebih lugas dengan menekankan perlunya "kalibrasi ulang" kebijakan serta kenaikan suku bunga lebih lanjut

 

Dari sentimen dalam negeri, Bank Indonesia membeberkan tiga instrumen yang digunakan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang dalam pekan ini kembali bergejolak, bahkan menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS kemarin yaitu kebijakan secara operasional, berupa instrumen spot, instrument DNDF (Domestic Non Deliverable Forward) maupun NDF (Non Deliverable Forward).

Sehingga bagi pelaku pasar dengan kebutuhan pemenuhan kewajiban impor maupun pembayaran impor yang dapat ditunda, bisa dilakukan dengan DNDF. Hal ini merupakan bagian untuk mendorong berkembangnya instrumen hedging.

Sementara, untuk pergerakan nilai tukar rupiah di pasar NDF([Non Deliverable Forward) yang berada di pasar luar negeri, transaksi tersebut tetap berjalan ketika pasar domestik Indonesia ditutup.

Selain itu, Menteri Keuangan Suhasil Nazara memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 dirancang secara pruden dan kredibel di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Pembahasan rancangan APBN (RAPBN) 2027 berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan fragmentasi perdagangan dunia yang mengganggu rantai pasok, meningkatkan volatilitas harga, hingga menambah tekanan inflasi.

Namun kita bersyukur bahwa di tengah tantang an global yang tidak mudah tersebut, fundamental ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang Kuat. Hal ini terbukti dari kinerja APBN hingga Agustus 2026 tetap solid. Pertumbuhan ekonomi Indonesia secara kumulatif pada semester I-2026 tercatat solid di level 5,45 persen (yoy), dengan pertumbuhan triwulan II mencapai 5,29 persen.

Pendapatan negara masih tumbuh hingga mencapai Rp2.055,6 triliun, setara dengan 65,2 persen dari target APBN. Hal tersebut menunjukkan APBN tetap menjadi instrumen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus melindungi masyarakat. 

Sepanjang 2026, APBN digunakan secara fleksibel dan responsif untuk menghadapi berbagai tantangan, termasuk penanganan bencana, menjaga stabilitas harga serta ketersediaan energi dan pangan di tengah kenaikan harga minyak dunia dan ancaman El Nino.

"Berdasarkan analisis tersebut, diprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.890-Rp18.140 per dolar AS," katanya.

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya