JAKARTA - Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono menyatakan potensi kerugian ekonomi Indonesia akibat penyelundupan dan belum optimalnya pemanfaatan benih bening lobster (BBL) mencapai USD1 miliar atau setara Rp17,9 triliun per tahun.
Angka tersebut merupakan estimasi nilai ekonomi dari potensi benih lobster Indonesia yang mencapai hampir 500 juta ekor setiap tahun.
Trenggono menilai, apabila potensi tersebut dapat dikelola dengan baik, Indonesia berpeluang memperoleh manfaat ekonomi yang besar, termasuk bagi penerimaan negara.
"Indonesia memiliki potensi BBL yang begitu besar. Kalau menurut catatan, kurang lebih hampir 500 juta ekor. Tapi menurut pandangan saya, kalau setiap tahun 500 juta, mestinya lebih dari itu. Ini adalah sebuah kekayaan alam laut kita yang sangat luar biasa, yang secara terus terang sampai hari ini kita belum bisa manfaatkan dengan baik," kata Trenggono dalam Kick-Off Satgas P2BBL, Senin (12/10/2026).
"Jadi bayangkan saja kalau 500 juta, kalau kali USD2 saja sebetulnya sudah USD1 miliar yang harta kita hilang begitu saja. Kalau ini bisa menjadi pemasukan negara enggak usah banyak, 30 persen saja, ini sudah cukup lumayan, luar biasa," lanjutnya.
Trenggono menyayangkan besarnya kekayaan laut Indonesia tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Padahal, potensi benih lobster yang dimiliki Indonesia dinilai sangat besar untuk mendukung pengembangan industri budidaya dan meningkatkan nilai tambah sektor perikanan nasional.
Ia menjelaskan, besarnya potensi benih lobster sampai saat ini belum menjadikan Indonesia unggul dalam industri budidaya lobster.
Menurutnya, pemerintah sebenarnya telah melakukan berbagai uji coba budidaya di sejumlah wilayah, termasuk Batam dan Nusa Tenggara Barat (NTB), namun tingginya permintaan benih lobster dari negara tetangga menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan industri budidaya dalam negeri.