RI Ajak China Garap Potensi Ekonomi di Kawasan Transmigrasi

Tangguh Yudha, Jurnalis
Kamis 15 Oktober 2026 21:28 WIB
Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman Suryanagara mengajak China bekerja sama dalam riset pengembangan kawasan transmigrasi di Indonesia. (Foto: Okezone.com/Kementerian Transmigrasi)
Share :

JAKARTA – Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman Suryanagara mengajak China bekerja sama dalam riset pengembangan kawasan transmigrasi di Indonesia. Kolaborasi ini diharapkan dapat mengidentifikasi potensi ekonomi daerah, mengatasi hambatan investasi, serta mendorong pertumbuhan industri dan penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat setempat.

Iftitah mengusulkan agar penelitian bersama tersebut dimulai di satu atau dua kawasan transmigrasi. Riset akan difokuskan pada pemetaan potensi ekonomi, identifikasi hambatan investasi, serta pemetaan kebutuhan keterampilan tenaga kerja untuk mendukung pengembangan industri.

“Saya ingin kita memilih satu atau dua kawasan nyata dan mengerjakannya bersama. Petakan rantai nilainya, identifikasi hambatannya, dan pelajari kesenjangan keterampilannya,” ujar Iftitah, Kamis (15/10/2026).

Menurut Iftitah, Indonesia memiliki banyak kawasan transmigrasi dengan potensi ekonomi yang besar, mulai dari sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan hingga sumber daya mineral. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya didukung oleh industri pengolahan, akses pasar, teknologi, dan ketersediaan tenaga kerja terampil.

Karena itu, kerja sama penelitian terapan diharapkan menghasilkan solusi konkret untuk mengatasi berbagai hambatan pembangunan kawasan transmigrasi sekaligus menarik investasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.

Iftitah menegaskan bahwa hasil penelitian tidak boleh berhenti pada kajian akademik. Hasil riset harus dapat diterapkan oleh pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk mengembangkan potensi ekonomi wilayah.

“Hasilnya harus berupa sesuatu yang benar-benar dapat digunakan oleh gubernur, bupati, mitra usaha, atau masyarakat setempat: gambaran yang jelas mengenai peluang, hambatan, dan peta jalan praktis tentang langkah selanjutnya,” katanya.

Salah satu kawasan yang berpotensi dikembangkan adalah Kawasan Transmigrasi Salor di Merauke, Papua Selatan. Berdasarkan penelitian Tim Ekspedisi Patriot, kawasan tersebut masih menghadapi sejumlah kendala yang memengaruhi produktivitas pertanian, antara lain kualitas bibit, pengendalian hama, irigasi, dan akses jalan usaha tani.

Iftitah juga menyoroti peluang kerja sama Indonesia dan China untuk mengembangkan kawasan Salor dan Wanam di Merauke. Kolaborasi tersebut berpotensi mencakup riset pertanian, pengembangan teknologi, peningkatan keterampilan masyarakat, serta penguatan sistem produksi pangan.

Ia menambahkan bahwa pengembangan kawasan transmigrasi harus menghubungkan potensi sumber daya daerah dengan pertumbuhan industri dan investasi. Upaya tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Menurut Iftitah, keberhasilan kerja sama riset tidak cukup diukur dari jumlah penelitian atau publikasi yang dihasilkan. Dampaknya juga perlu dilihat dari peningkatan produktivitas, penciptaan lapangan kerja, serta pertumbuhan pendapatan petani dan pelaku usaha lokal.

Pengembangan kawasan transmigrasi juga diharapkan membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk terlibat dalam rantai pasok industri.

“Jika kita dapat melakukan itu bersama, kerja sama akademik menjadi lebih dari sekadar pertukaran gagasan. Kerja sama itu menjadi alat untuk menyelesaikan persoalan pembangunan yang nyata,” pungkasnya.

(Feby Novalius)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya