Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Apindo Minta Jokowi Ajukan Penundaan Pasar Bebas

Bramantyo , Jurnalis-Sabtu, 18 Oktober 2014 |20:16 WIB
Apindo Minta Jokowi Ajukan Penundaan Pasar Bebas
Presiden Terpilih Joko Widodo. (Foto: Okezone)
A
A
A

SOLO - Jelang diberlakukannya ASEAN Economic Community (AEC), dunia usaha Indonesia termasuk pemerintah sendiri belum siap menghadapi persaingan pasar bebas tersebut. Karenanya, pasar bebas di Indonesia perlu ditunda.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi meminta Presiden Joko Widodo saat berlangsungnya KTT ASEAN di Myanmar nanti mengajukan penundaan terkait pasar bebas yang akan diberlakukan 2015. Menurutnya, hal ini karena banyak para pengusaha yang tidak mengetahui pemberlakuan AEC, akibat minimnya sosialisasi pemerintah.

"Presiden Jokowi di tugas pertamanya harus meminta penundaan pemberlakuan AEC. Negara lain juga begitu, Laos, Kamboja mendapatkan dispensasi lima tahun lagi melaksanakan itu (MEA). Kita harus melihat kepentingan nasional kita,"ungkap Sofjan Wanandi seusai menghadiri Simposium Forum Rektor Indonesia di UNS, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (18/10/2014).

Menurut Sofjan, pemerintah melalui Menperindag harus memperbanyak bernegosiasi dengan luar negeri. Negosiasi itu sangat diperlukan karena agar lebih bisa menguntungkan pengusaha dalam negeri. Sebab, hingga saat ini pemerintah belum memberikan kebijakan yang meringankan pengusaha. "Tidak seperti sekarang ini kita selalu defensif terus, sering kena dumping, kena Surcharge segala macam," keluhnya.

Menurut dia, dibandingkan negara ASEAN lainnya, Indonesia masih sangat lemah dan tidak berdaya sama sekali. Meskipun, dalam jumlah penduduk, Indonesia merupakan negara terpadat di dunia.

Kondisi tersebut seharusnya bisa dimanfaatkan pemerintah untuk mendikte negara lain, terutama di Asean yang hendak masuk ke Indonesia. Sehingga Pemerintah harus secepat mungkin  mempersiapkan diri supaya Negara ASEAN lainnya dari juga bisa membuka pintu.

Sofjan Wanandi mengatakan tidak ada bank Indonesia yang ada luar. Misalkan di Bangkok, Vietnam, Singapura, terlebih lagi Malaysia. Sebaliknya, bank-bank negara tersebut tumbuh subur bagaikan jamur di Indonesia.

Apalagi Malaysia, Singapura, tak hanya melenggang bebas membuka bank miliknya di Indonesia. Namun bank dari negara tersebut memiliki bank hingga cabang kecil-kecil hingga ke pelosok daerah di Indonesia yang jumlahnya cukup banyak. "Jangankan mendirikan bank di negara ASEAN. Kita mau buka satu ATM saja di Singapura tidak boleh," tukas dia.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement