Disebut Fitnah Hatta Rajasa, Faisal Basri Miliki Bukti

Hendra Kusuma, Jurnalis · Selasa 26 Mei 2015 14:42 WIB
https: img.okezone.com content 2015 05 26 19 1155437 disebut-fitnah-hatta-rajasa-faisal-basri-sebut-miliki-bukti-2Vrr1ppgFS.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri mengatakan, dirinya telah memiliki data dan bukti yang lengkap mengenai kekacauan industri bauksit nasional.

Data dan bukti tersebut juga sebagai pegangan Faisal yang sebelumnya telah melakukan tudingan kepada Mantan Menko Perekonomian Hatta Rajasa terkait kekacauan industri bauksit nasional.

"Data, oh iya ada, yang bersaksi juga mau banyak. Jadi kan, kalau saya tidak bicara gini, ini kan risiko ya buat saya, ngapain sih saya," kata Faisal di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (26/5/2015).

Menurut Faisal, jika tidak ada yang berani mengungkap fakta mengenai kondisi industri bauksit nasional ini, negara pun akan hancur oleh para ulah oknum-oknum.

"Tapi kalau tidak ada yang bicara gini, nunggu hukum, nunggu bukti, wah rusak negeri ini. Jadi ga apa-apa deh saya jadi korban," tambahnya.

Faisal mengaku, tudingan yang telah dilontarkan kepada Hatta Rajasa bukan suatu sensasi belaka, dirinya pun siap terima hukuman apa saja terkait hal tersebut.

Menurut dia, dengan adanya informasi mengenai kondisi industri bauksit nasional, justru membuat semua kalangan berkomentar dan memberikan pandangannya masing-masing.

"Sektor migas semuanya ngomong, ada ada pak Yusni Usman dari Jogja yang caci maki katanya tim (RTKM) bohong, bagus, makin banyak yang kaya gitu makin keliatan petanya, nanti tinggal ditelusuri kenapa, oh ada yang karena kalah tender, ada yang pernah apa, keliatan semua," tutupnya.

Dapat diketahui, kekacauan industri bauksit nasional bermula saat Hatta Rajasa mencalonkan diri sebagai wakil presiden 2014, yang pada saat itu pula dia melarang ekspor mineral mentah.

Adapun, pelarangan ekspor mineral mentah tertuang kembali pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 1 Tahun 2014 terbit pada tanggal 12 Januari 2014, yang diduga Faisal Basri penerbitan tersebut atas permintaan UC Rusal perusahaan alumunium terbesar di Rusia.

Sebab, perusahaan tersebut ingin membangun pabrik di Kalimantan, namun mereka ingin mengurangi jumlah bauksit yang beredar di dunia hingga 40 juta ton. Dampaknya harga alumina Rusal melonjak.

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini