Analis Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan, pelemahan yang terjadi pada Rupiah akibat aliran dana keluar ditambah dengan penguatan dolar AS.
"Dari dalam negeri (sentimen negatif) juga karena aliran dana (keluar), tapi ketidakpastian the Fed terkait rencana menaikkan suku bunga juga berpengaruh," katanya kepada Okezone, Senin (24/8/2015).
Meski Rupiah terus mengalami pelemahan, pemerintah dalam hal ini Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan kondisinya masih aman. Bahkan dari stres test menunjukkan bahwa kondisinya aman.
Menurut Hans, pemerintah memang harus bertindak seperti itu karena otoritas tidak boleh panik menghadapi kondisi pelemahan Rupiah.
"Pemerintah harus bilang aman, karena mereka tidak boleh panik dan takut," jelasnya.
Selain itu, sentimen lainnya yang turut mempengaruhi adalah data neraca perdagangan yang surplus di Juli akibat impor dan ekpor turun. Hal ini mengindikasikan daya beli masyarakat rendah.
"Neraca kita surplus di Juli, saat Lebaran, ini artinya daya beli turun sehingga membuka peluang pertumbuhan kuartal III lebih jelek dari kuartal II," ungkap Hans.
(Rizkie Fauzian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.