Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Aksi Nyentrik Susi Pudjiastuti Basmi Maling Ikan

Dhera Arizona Pratiwi , Jurnalis-Senin, 12 Oktober 2015 |06:08 WIB
Aksi Nyentrik Susi Pudjiastuti Basmi Maling Ikan
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (Foto: Okezone)
A
A
A

Tak hanya pakan, Susi pun tengah gencar mengembangkan komoditas rumput laut di Indonesia. Pasalnya, usaha budi daya rumput laut dinilai memberikan kontribusi nyata pada peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir khususnya di wilayah perbatasan dan pulau kecil. Di sisi lain, budi daya rumput laut dipilih sebagai prioritas. Apalagi Susi menargetkan Indonesia tidak lagi menjadi ekspor rumput laut dalam bentuk bahan mentah. Diharapkan tahun 2020, target tersebut bisa dicapai.

Indonesia saat ini memiliki 555 jenis rumput laut. Dengan beragamnya jenis rumput laut, separuh dari total produk rumput laut dunia dimiliki Indonesia. Sebanyak 50 persen produk rumput laut hasil budi daya dunia tersebut merupakan jenis Eucheuma cottonii, Eucheuma spinosum dan Glacillaria sp.

Namun, produksi rumput laut di Indonesia saat ini belum maksimal. Tercermin dari lahan rumput yang dimanfaatkan baru 2,68 persen atau 352.825,12 hektare. "Potensi lahan yang dimiliki Indonesia cukup besar, 12,1 juta hektare," kata Susi.

Akan tetapi, penggunaan lahan tersebut tidak maksimal. Padahal, biaya pemeliharaan rumput laut bisa dikatakan gratis. Dengan begitu, petani tidak harus mengeluarkan biaya banyak. Susi mengatakan, pada 2014 volume ekspor rumput laut Indonesia sudah mencapai 206.452 ton senilai USD279.540.000. "Naik dari produksi 2013 sebesar 181.924 ton seharga USD209.701.000," jelasnya.

Oleh sebab itu, Susi menaikkan anggaran budi daya rumput laut hingga delapan kali lipat. Tahun ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengalokasikan anggaran Ditjen Perikanan Budidaya untuk budi daya rumput laut sebesar Rp40 miliar.

"Dan tahun depan kita anggarkan Rp330 miliar untuk rumput laut saja, untuk meningkatkan jumlah petani rumput dan kualitas rumput laut," papar Susi.

Dari anggaran tersebut, sekira Rp216 miliar akan digunakan Ditjen Peningkatan Daya Saing Produk KP untuk pembangunan delapan unit gudang rumput laut dan 10 pabrik rumput laut. Diharapkan dengan naiknya anggaran ini, bisa menggenjot produksi rumput laut.

Ditargetkan pada 2016 produksi rumput laut mencapai 12 sampai 13 juta ton. Sebelumnya, produksi rumput laut (basah) di Indonesia pada 2013 mencapai 9,2 juta ton dan pada 2014 10,2 juta ton.

Susi menilai, ekspor bahan mentah rumput laut tidak menghasilkan keuntungan yang besar. Dengan diolah terlebih dahulu rumput laut bisa menjadi bahan siap pakai untuk berbagai industri.

Keinginan Susi ini sejalan dengan surat Sekretaris Kabinet nomor B-16/Seskab/3/2015 sebagai tindak lanjut arahan presiden memfokuskan pengembangan spesies rumput laut yang bagus untuk dioleh lebih lanjut (kosmetik, sabun, obat dan makanan).

"Keuntungan yang terbesar adalah dari pengolahan, dari menjadikan rumput laut ini bahan yang sudah jadi untuk kosmetik, industri, jangan sampai kita hanya mendapatkan nilai yang terendah, ini untuk kesejahteraan masyarakat, ya kita harus tingkatkan value," papar Susi.

Oleh sebab itu, Susi menantang pengusaha sektor pengolahan rumput laut untuk meningkatkan investasi, meningkatkan produksi olahan rumput laut dan serapan rumput laut di kalangan petani.

"Kalau asosiasi enggak mau ketinggalan sama investor asing, Anda harus lari, ayo investasi!" kata Susi kepada Asosiasi Rumput Laut.

Menurut Susi, dengan kekayaan alam Indonesia bisa menjadi penentu pasokan dunia. Namun perlu kerjasama antar stakeholder dan pemerintah untuk mewujudkannya.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement