Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Aksi Nyentrik Susi Pudjiastuti Basmi Maling Ikan

Dhera Arizona Pratiwi , Jurnalis-Senin, 12 Oktober 2015 |06:08 WIB
Aksi Nyentrik Susi Pudjiastuti Basmi Maling Ikan
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (Foto: Okezone)
A
A
A

"Sebaiknya, pengusaha lokal Indonesia kencangkan ikat pinggang, investasi investasi, investasi. Kita harus mulai persiapan," imbuhnya bersemangat.

Mantan bos Susi Air ini berharap tahun depan produksi rumput laut dalam bentuk Karegenan dan Alkali Treated Cottoni (ATC) Chips bisa meningkat 20 persen.

"Ke depannya kita tidak lagi ekspor bahan baku, kalau anda enggak bisa (meningkatkan investasi) berhenti jadi pengusaha saja, kesempatan untung besar kok," tukas Susi.

Menindaklanjuti pemberitaan mengenai turunnya harga rumput laut di masyarakat, pada tanggal 7 Oktober 2015, Kementerian yang dipimpin Susi telah melakukan rapat dengan asosias dan diungkapkan beberapa hasil dari rapat tersebut, salah satunya adalah penetapan batas bawah harga beli rumput laut di petani. Pemerintah bersama seluruh asosiasi rumput laut sepakat bahwa para pembudidaya rumput laut harus mendapatkan manfaat ekonomi.

Rapat tersebut menyepakati, pembelian jenis rumput laut Glacilaria sp. akan dilakukan dengan harga minimal Rp6.000 per kg dengan kadar air 18 persen, dan jenis Eucheuma cottonii Rp8.000 per kg dengan kadar air 36-38 persen, dan kotoran 3 persen berlaku untuk kedua jenis rumput laut tersebut.

"Ini kesepakatan, dolar AS ini tinggi, kasihlah Rp7 ribu sama Rp9 ribu, yang bayar segitu buka pabrik saya yang resmikan," kata Susi.

Susi mengatakan, pembuatan batas bawah harga ini dilakukan untuk melindungi petani dari permainan (kartel) harga.

Kesepakatan lain dalam rapat, pemerintah dalam hal ini KKP bersama Kementerian/Lembaga terkait akan memanfaatkan sistem resi gudang Kementerian Perdagangan sebagai salah satu instrumen penyangga harga produk rumput laut masyarakat.

Susi juga mengingatkan pengusaha untuk tidak menyalahgunakan kepemilikan uangnya. Apalagi berpikir untuk melakukan tindak kolusi atau menyogok aparat dan pemerintah daerah dengan tujuan memonopoli pasar. Hal ini dilakukan agar sebesar-besarnya keuntungan untuk masyarakat dan petani akan lebih semangat menanam rumput laut.

Tidak hanya itu, Susi juga mengingatkan pengusaha untuk membeli langsung komoditas ke petani. Jangan melalui tengkulak yang biasanya menentukan harga lebih tinggi.

"Saya lihat sendiri di NTT itu tengkulak bisa mendapatkan nilai seperempat dari harga rumput laut, saya pikir itu kurang fair dan kurang baik kondisi para petani," tambah Susi.

(Rizkie Fauzian)

Halaman:
Lihat Semua
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Banner
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Terpopuler
Advertisement