"Jadi memberikan opsi, karena sekarang kan dolar AS semakin langka, dolar AS semakin mahal, jadi oke kalau umpamanya ada opsi lain, remimbi (yuan) yang lebih tersedia, lebih besar pasoknya, mungkin juga lebih murah, ya kenapa tidak," kata dia di depan pengusaha dalam acara Apindo CEO Gathering 2015 di Jakarta, Senin (7/12/2015).
Lembong berharap, di kemudian hari impor yang didatangkan dari China bisa menggunakan yuan, tidak lagi menggunakan dolar AS. Dengan begitu, permintaan dolar AS di dalam negeri akan sedikit berkurang.
Untuk mendukung hal tersebut, Lembong bilang harus menyediakan yuan yang memadai. Sehingga likuditas yuan banyak dan bisa menjadi pilihan bagi importir.
"Kalau misalnya importir, apalagi importir yang mau impor dari China, punya pilihan, nggak harus tukar Rupiah ke dolar, enggak harus tukar Rupiah ke euro, tapi bisa tukar rupiah ke remimbi (yuan), jadi memberikan opsi," tambah dia.
Kendati begitu, Lembong mengaku penggunaan yuan sebagai mata uang dunia ini memerlukan sosialisasi. "Butuh waktu karena itu memang hal yang baru," tukas dia.
(Fakhri Rezy)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.