Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tantangan Ekonomi Masih Berat

Koran SINDO , Jurnalis-Senin, 04 Januari 2016 |13:16 WIB
Tantangan Ekonomi Masih Berat
Ilustrasi: (Foto: Okezone)
A
A
A

”Sehingga tugas berat pemerintah untuk mencari kompensasi penurunan ekspor ke China. Pasar tradisional seperti India dan AS harus menjadi pilihan utama saat ini,” ujarnya saat dihubungi KORAN SINDO di Jakarta kemarin. Senada, ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, perlambatan pertumbuhan ekonomi China yang berlanjut di 2016 akan menekan kinerja ekspor Indonesia. Faktor tersebut akan melengkapi beban dari tren turunnya harga minyak dunia dan komoditas di pasar internasional.

”Secara keseluruhan, kinerja ekspor bisa berpotensi tertekan sehingga defisit transaksi berjalan pada tahun ini akan melebar. Dengan demikian, rupiah berpotensi masih bergejolak di 2016,” ujar Josua. Dia menambahkan, tantangan eksternal lain pada tahun ini berasal dari arah kebijakan suku bunga AS. Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) memberi sinyal akan menaikkan suku bunga secara bertahap hingga 100 basis poin (bps).

Namun Josua memprediksi pelemahan rupiah cenderung terbatas seiring membaiknya fundamental ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diperkirakan membaik di kisaran 5 persen bila dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya 4,7 persen. Perbaikan diharapkan seiring dengan paket kebijakan pemerintah yang mulai berdampak ke sektor riil pada semester dua tahun 2015. Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono berpandangan, tantangan terbesar ekonomi Indonesia tetap pada penerimaan pajak. Tahun 2015, kekurangan penerimaan (shortfall) pajak mencapai Rp239 triliun.

”Maka tahun 2016, target penerimaan pajak harus direvisi jika tidak ingin shortfall lagi,” ujarnya. Adapun dari eksternal, menurutnya, tantangan berasal dari kebijakan The Fed yang akan menaikkan suku bunga sebesar 0,25 persen setiap triwulan. Namun dalam pandangannya, skenario tersebut belum tentu benar terjadi lantaran apabila dolar AS sudah terlalu kuat, sangat mungkin kenaikan suku bunga ditunda.

Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro mengakui kondisi perekonomian yang sulit pada 2015 kemungkinan masih berlanjut di 2016. ”Kondisi 2016 meski banyak yang lebih optimistis, tapi sekali lagi kita berada di dalam kondisi global yang tidak pasti,” sebutnya. Dia mengatakan, beberapa sumber ketidakpastian ekonomi global masih akan berkisar pada langkah The Fed yang menaikkan suku bunga, perlambatan ekonomi China, terus turunnya harga komoditas, serta anjloknya minyak.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement