Mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal tersebut melanjutkan, realisasi belanja negara (sementara) hingga akhir tahun mencapai Rp1.810 triliun atau 91,2 persen dari pagu sebesar Rp1.984,1triliun. Dari belanjatersebut, realisasi anggaran transfer ke daerah dan dana desa mencapai Rp623 triliun dari pagu Rp664,6 triliun. Dengan begitu, realisasi defisit anggaran pun ikut melebar hingga mencapai Rp318,5 triliun (2,8 persen produk domestik bruto/ PDB) dari target APBN-P 2015 sebesar Rp222,5 triliun atau 1,9% PDB.
”Defisit tersebut berimplikasi pada peningkatan realisasi pembiayaan anggaran yang mencapai Rp329,4triliun atau 147,3 persen dari target dalam APBN-P,” tambahnya. Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo mengatakan, terlepas dari target penerimaan yang tidak tercapai, realisasi itu patut diapresiasi di tengah situasi perekonomian yang kurang baik dan keterbatasan kapasitas. ”Di tengah kondisi tersebut, pemerintah masih dapat mencapai penerimaan yang cukup tinggi sekaligus menjaga defisit APBN-P 2015,” kata dia.
Meski begitu, Yustinus menyarankan pemerintah tidak berpuas diri dan segera mengidentifikasi kekurangan selama 2015 agar kinerja penerimaan 2016 lebih baik lagi.
(Fakhri Rezy)