”Ngeri banget . Kita pasrah saja berdoa,” kenangnya. Sepuluh tahun tidak memancing, alumnus Seattle University itu mengaku rindu dengan aktivitas hobinya itu. Steven masih ingat ikan terbesar yang ditangkapnya di Ilwaco adalah ikan salmon seberat 20 pound pada 2006 lalu.
”Di sini memang belum pernah memancing. Kalau ke Bali, saya ingin coba mancing dan boating lagi,” ungkap pria yang sedang menanti kelahiran anak keduanya itu. Sebagai workaholic, Steven kesulitan mengalokasikan waktu untuk menjalani hobinya itu. Padahal, memancing selain menyenangkan, juga menjadi sarana untuk merenung dan merefleksi kembali kehidupannya.
”Mancing itu long time, waktu sendiri di mana saya bisa merefleksi lagi hidup saya, keluarga, hal-hal yang lucu, kegagalan saya, keraguan saya. Jadi sambil mancing saya juga mikirin apa yang akan dilakukan ke depan,” ucap pria yang pernah berkarir di Merrill Lynch .
Lebih lanjut Steven menuturkan, semangat atau passion dalam dirinya yaitu ingin membawa dampak positif dan berkontribusi bagi orang lain atau sekitarnya. Maka itu, dia banyak terlibat dalam kegiatan transformasi komunitas, salah satunya dalam program kesehatan di Afrika. ”Orientasi saya transformasi komunitas.
Saya senang di situ,” sebutnya. Steven juga menegaskan bahwa pengalaman hidup, pahit atau manis, bisa menjadi bekal berharga dan berguna suatu saat nanti. Selain itu, harus ada kemauan untuk terus belajar dari siapa pun. ”Kita harus selalu jujur, jangan pikir kita hebat, selalu ada orang yang lebih hebat dari kita. Makanya selalu belajar!” pungkasnya.
(Rizkie Fauzian)