nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pajak untuk Facebook Cs, Pemerintah Tak Boleh Hanya Ikut-ikutan

Dedy Afrianto, Jurnalis · Kamis 14 April 2016 06:06 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 04 13 20 1361980 pajak-untuk-facebook-cs-pemerintah-tak-boleh-hanya-ikut-ikutan-9JyiGLo6Ga.jpg Facebook. (Foto: Reuters)

JAKARTA - Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP) berencana akan memeriksa data potensi perpajakan dari beberapa virtual office di Indonesia. Diantaranya adalah Facebook, Twitter, dan Yahoo. Bahkan, data ini akan diperiksa hingga ke Singapura, di mana perusahaan tersebut berbentuk Badan Usaha Tetap (BUT).

Kebijakan ini diputuskan setelah pemerintah menyadari bahwa dunia internasional telah mulai menyasar pajak perusahaan yang selama ini menjelma sebagai virtual office. Sebab, perusahaan yang juga menjadi representatif office ini juga telah memberikan kerugian bagi Indonesia.

Namun, pemerintah perlu hati-hati dalam melakukan pemeriksaan ini. Salah langkah, hal ini justru bisa menjadi sengketa pajak yang menyudutkan pemerintah Indonesia.

Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo mengungkapkan, pemerintah perlu memiliki aturan resmi sebelum melakukan pemeriksaan data perpajakan.

Sebab, selama ini Facebook Cs belum berbentuk Badan Usaha Tetap (BUT) di Indonesia. Sehingga, pemerintah belum memiliki hak secara legal untuk melakukan pemeriksaan terhadap data perpajakan Facebook Cs.

"Kita harus hati-hati. Karena kalau kita belum punya legalitas ini justru akan membawa kita ke sengketa pajak. Kita bisa kalah di pengadilan," kata Yustinus kepada Okezone di Jakarta.

Tanpa adanya aturan hukum, pemerintah belum dapat mengikuti kebijakan dunia internasional untuk mengejar pajak Facebook Cs. Untuk itu, terlebih dahulu perlu dibuat aturan sebelum memasuki tahap pemeriksaan yang akan dilakukan oleh DJP.

"Jadi jangan hanya ikut-ikutan dunia internasional. Kalau kita belum punya aturan hukum ya harus dibuat dulu. Tapi kalau belum ada kita juga belum bisa periksa virtual office yang selama ini berkembang di Indonesia," tukasnya.

Facebook Cs kini memang menjadi primadona bagi masyarakat Indonesia. Berkembangnya teknologi berbasis android dan besarnya jumlah penduduk Indonesia pun kini juga menjadi daya tarik bisnis bagi Facebook Cs di Indonesia.

Khususnya untuk Facebook, pada tahun 2015 saja total pendapatan perusahaan yang didirikan oleh Mark Zuckerberg di Indonesia telah mencapai sekira Rp2,5 triliun. Dengan jumlah pengguna yang mencapai 70,6 juta, Indonesia telah menyumbang 22 persen dari total pendapatan Facebook di kawasan Asia Pasifik.

Potensi inilah yang dipandang serius oleh DJP. Dengan Direktorat Intelijen Pajak dan Direktorat Perpajakan Internasional yang baru saja dibentuk, DJP pun semakin 'liar' untuk mengejar potensi penerimaan pajak, bahkan hingga ke mancanegara.(mrt)

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini