Dikatakannya, untuk satu hektare tambak selama masa pemeliharaan sekitar dua bulan setidaknya dibutuhkan dana sekitar Rp 13 juta. Biaya sebesar itu dibutuhkan untuk pembelian benih, pakan dan tenaga kerja. Total biaya yang harus dikeluarkan tersebut, menurut Suganda, sudah sangat minimal.
Dengan asumsi tambak milik sendiri dan tenaga kerja hanya satu orang untuk masa 20 hari terakhir pemeliharaan. “Kalau tambaknya dapat nyewa dan pemakaian tenaga kerja sejak awal pemeliharaan, ya ongkosnya lebih besar lagi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislakan) Kabupaten Cirebon, Dedi Nurul mengungkapkan, perairan pantai utara sebenarnya sudah tidak layak lagi untuk memelihara udang. Rendahnya kualitas air dengan tingginya kandungan bakteri patogen dan virus akibat polusi air dari pertumbuhan industri yang tidak terkendali, menjadi penyebabnya.
Kalaupun bisa, kata Dedi, pemeliharaan harus secara super intensif. “Dengan pemeliharaan secara intensif, sebelum digunakan untuk memelihara udang, air laut harus mendapatkan sejumlah perlakuan. Selain itu juga harus didukung sejumlah peralatan yang representatif,” kata Dedi.
Saat ini, pihaknya tengah menggencarkan program penghijauan pantai dengan penanaman bakau, untuk mengembalikan ekosistem perairan Cirebon.
(Amril Amarullah (Okezone))
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.