JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa sepanjang April 2016 terjadi deflasi sebesar 0,45 persen. Deflasi ini merupakan salah satu yang tertinggi sejak tahun 2000 lalu dan merupakan yang kedua terjadi sepanjang tahun 2016.
Sebelumnya, ketika terjadi deflasi sebesar 0,09 persen pada Februari lalu, Wakil Presiden Jusuf Kalla sempat mengingatkan bahwa deflasi dapat menjadi lampu kuning bagi pemerintah. Pasalnya, hal ini mencerminkan menurunnya daya beli masyarakat yang menyebabkan menurunnya permintaan.
Lantas, apakah deflasi pada bulan ini mencerminkan penurunan daya beli masyarakat?
Kepala BPS Suryamin mengungkapkan, deflasi yang terjadi sepanjang April 2016 justru tidak sepenuhnya menggambarkan penurunan daya beli masyarakat. Deflasi justru terjadi akibat panen raya yang berdampak pada lebih besarnya penawaran dibandingkan permintaan barang kebutuhan pokok.
[Baca juga: Impor Nonmigas Tumbuh, IHPB Naik 0,67%]
"Deflasi ini terjadi karena harga pangan yang menurun. Selain itu juga disebabkan karena tarif transportasi dan listrik yang juga turun karena penurunan harga BBM," kata Suryamin di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin (1/5/2016).
Suryamin pun memberikan contoh pada meningkatkan jumlah orang Indonesia yang menggunakan angkutan udara pada penerbangan domestik.
"Jadi deflasi bukan berarti penurunan daya beli masyarakat. Kalau kita lihat daya beli masyarakat juga meningkat. Misalnya dari penerbangan domestik yang meningkat. Meskipun datanya baru bulan Maret tapi ini bisa menggambarkan," jelas Suryamin.
Untuk diketahui, BPS hari ini merilis data perkembangan transportasi nasional. Berdasarkan data BPS, jumlah penumpang angkutan udara domestik pada Maret 2016 adalah sebanyak 6,3 juta orang atau naik 7,88 persen secara month to month.
Peningkatan penggunaan moda transportasi penerbangan pun diharapkan masih tetap terjadi sepanjang April 2016. Pasalnya, harga tiket pesawat domestik kini tengah turun menyusul penurunan harga minyak dunia.
(Raisa Adila)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.