Setelah anaknya mempromosikan melalui jaringan internet, tidak sedikit pembeli dari luar negeri memesan rebana buatannnya. Meski persaingan ketat, namun Zaeni telah memiliki pangsa pasar sendiri, bahkan usahanya telah merambah pangsa ekspor ke negara Korea Selatan, Malaysia, Hongkong dan Arab Saudi.
Usaha Zaeni pun berkembang pesat, semula dikerjakan sendiri hingga merekrut belasan pekerja. Pesanan rebana dan bedug tidak mengenal musim seperti bulan besar atau Zulhijjah, namun setiap bulan selalu ada permintaan.
Dalam satu bulan, bengkel milik Zaeni mampu memproduksi sampai 20 set unit alat rebana dengan harga bervariasi. “Satu set hadroh seharga Rp3,5 juta, rebana Rp4 juta - Rp4,5 juta. Untuk bedug antara Rp10 juta - Rp40 juta,” ujar Zaeni.
Kendati tidak semua rahasia pembuatan rebana dibukanya. Zaeni hanya mengingatkan untuk memproduksi alat rebaha membutuhkan waktu hingga tiga hari. Namun yang perlu diperhatikan adalah kualitas kayu sebagai badan rebana agar tercipta suara yang merdu. Kulit rebana harus dari kulit kambing yang sudah diolah secara khusus dan bedug dari kulit kerbau.
(Fakhri Rezy)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.