Untuk saat ini, Yana membatasi pesanan hanya 7-8 pesanan per minggu. Hal itu lantaran keterbasan SDM yang dimilikinya. Selain itu, dia juga tak mau terlalu serakah mengambil pesanan namun kualitas dari bunga kertasnya terbengkalai.
Akan tetapi dari 7-8 pesanan itu saja, Yana sudah meraup omzet Rp4 juta-Rp5 juta per minggu. Jika dikalikan dia mampu meraup omzet Rp16 juta-Rp20 juta per bulan. Yang lebih menggiurkan lagi, dari omzet tersebut dirinya mengantongi profit bersih sekira Rp12 juta-Rp15 juta per bulan. Sebab biaya operasionalnya hanya 25%-30% dari omzet.
"Margin profit itu 70%-75%, itu bersih sudah bayar ibu-ibu. Kalau kerjain sendiri biayanya paling cuma 10%," akunya.
Sebenarnya tak ada yang spesial dari strategi promosi yang dilakukannya. Yana hanya menggunakan fasilitas Instagram ads untuk memperluas jangkauan penjualan. Biaya yang dikeluarkan untuk promosinya itu juga hanya Rp600 ribu per bulan.
Namun dengan kualitas yang terus dijaga, banyak dari pelanggannya yang ikut mempromosikan Paper Flower Jakarta ke teman-temannya. Selain kualitas Yana juga menyediakan beragam varian hiasan kertas tersebut seperti serangkaian daun, pita dan kupu-kupu.
"Sekarang saya mau lebih menjaring party planner, lalu ada rencana buka showroom kecil-kecilan. Targetnya awal tahun depan," tuturnya.
Showroom akan dibuat lantaran Yana berencana akan meningkatkan bisnisnya dengan menyewakan backdrop berhias bunga kertas. Sebab marak permintaan dari pelanggan korporatnya.
Modal: Rp5,6 Juta (bulan pertama)
- Bahan baku (kertas, lem, doubletip): Rp2 juta
- Asumsi ongkos pekerja 5 orang: Rp3 juta
- Biaya promosi Instagram ads: Rp600 ribu
Perkiraan pesanan per minggu (8 x Rp500 ribu) : Rp4 juta
Asumsi omzet per bulan (Rp4 juta x 4) : Rp16 juta.
Profit: Rp16 juta - Rp5,6 juta= Rp11,4 juta (dng)
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.