Dia mengatakan isu TKA China muncul karena bersinggungan dengan persoalan SARA yang kemudian diolah secara hiperbolis.
"Isu semacam ini jangan sampai dijadikan 'kompor' oleh sekelompok massa yang belum dapat melakukan mobilitas vertikal," ucap Hanif.
Menaker mengatakan bahwa penyebab kemunculan isu terkait radikalisme dan SARA adalah ketimpangan dan kemiskinan, namun faktor tersebut bukanlah penentu tunggal.
"Ketimpangan dan kemiskinan ini bukan faktor determinan, karena secara statistik di periode sebelumnya angka pengangguran lebih tinggi tetapi (isu SARA) tidak seberisik sekarang," ujar dia.
Hanif berpendapat pengarusutamaan pemikiran keagamaan yang toleran menjadi penting untuk mengatasi politisasi isu radikalisme dan SARA, sekaligus pula mendorong peran dan komitmen kelompok moderat yang selama ini menjadi silent majority.
(Dani Jumadil Akhir)