BPOM Musnahkan Obat dan Makanan Ilegal Senilai Rp3,8 Miliar di Medan

Wahyudi Aulia Siregar, Jurnalis · Selasa 23 Mei 2017 19:08 WIB
https: img.okezone.com content 2017 05 23 320 1698240 bpom-medan-musnahkan-obat-dan-makanan-ilegal-senilai-rp3-8-miliar-u5KymZ0hWC.jpg Foto: Wahyudi Aulia Siregar

MEDAN – Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Medan, melakukan pemusnahan terhadap produk obat-obatan dan makanan ilegal yang berhasil mereka sita sepanjang tahun 2016. Secara total, ada sebanyak 371 jenis obat dan makanan dengan jumlah kemasan mencapai 382.657 kemasan yang dimusnahkan.

Deputi Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya, Suratmono, mengatakan jika seluruh produk yang dimusnahkan ini didapat dari hasil pengawasan mereka terhadap 17 sarana penjual obat dan makanan di Medan. Seluruh produk yang dimusnahkan itu berjumlah Rp3,8 miliar.

“Produk yang dimusnahkan tersebut berjumlah 371 jenis kemasan. Terdiri dari 66 jenis obatan sebanyak 1.935 kemasan, 29 jenis obat tradisional sebanyak 151.442 kemasan, 230 jenis kosmetik sebanyak 13.267 kemasan dan 46 jenis pangan sebanyak 216.013 kemasan,” papar Suratmono usai pemusnahan secara simbolik di depan halaman BPOM Medan, Jalan Medan Estate, Deliserdang, Sumatera Utara, Selasa (23/5/2017).

Hadir pula dalam pemusnahan tersebut, Wakil Gubernur Sumut Nurhajizah dan Kepala BPOM Medan, Sacramento Tarigan.

Suratmono menjelaskan, produk yang mereka sita dan musnahkan ini pada umumnya merupakan produk yang dipasarkan tanpa izin edar. Ia pun mengimbau masyarakat untuk turut aktif melakukan pengawasan obat dan makanan yang tidak memenuhi persyaratan tanpa izin edar dan palsu di lingkungan sekitarnya.

"Apabila masyarakat menemukan hal-hal yang mencurigai terhadap produk pangan dan obat-obatan segara menginformasi kepada kami,”pungkasnya.

Untuk penindakan, kata Suratmono, pada 2016 pihaknya telah menangani 19 perkara serupa. Seluruhnya telah diproses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

“Dari 19 perkara itu, 14 perkara telah memasuki tahap II, dua perkara telah P21, satu perkara telah P19, satu perkara tahap I dan satu perkara masih dalam proses penyidikan. Sementara tahun ini sudah ada tujuh perkara, terdiri dari dua perkara yang sudah tahap I, dan lima kasus masih dalam proses penyidikan. Total nilai keekonomian untuk tujuh perkara itu mencapai Rp876 juta,” tandasnya.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini