Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

ECONOMIC VIEWS: Cerita Jokowi soal Warisan Utang hingga Laba Pelindo I Naik Tipis

Kurniasih Miftakhul Jannah , Jurnalis-Minggu, 06 Agustus 2017 |09:06 WIB
ECONOMIC VIEWS: Cerita Jokowi soal Warisan Utang hingga Laba Pelindo I Naik Tipis
Ilustrasi: (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) belum lama ini melakukan pertemuan dengan Persekutuan Gereja Indonesia (PGI). Pertemuan ini dilakukan secara tertutup di Istana Merdeka, Jakarta Pusat.

Sementara itu, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) membukukan penurunan pada laba bersih sebesar 16,38%. Tercatat laba Rp75,5 miliar pada kuartal II 2017, dibandingkan sebelumnya Rp90,37 miliar.

Di sisi lain, operator pelabuhan milik negara PT Pelabuhan Indonesia I (Pelindo I) berhasil membukukan kenaikan laba bersih sebesar Rp9,31 miliar. Jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya, laba bersih Pelindo I hanya naik 2,68%.

Ketiga berita tersebut merupakan berita-berita populer selama akhir pekan kemarin di kanal Okezone Finance. Berikut berita selengkapnya:

Bertemu PGI, Jokowi Cerita Warisan Utang hingga Pembangunan di Indonesia 

Sekretaris Umum PGI Gomar Gultom mengatakan, pertemuan ini turut membahas beberapa hal. Pertemuan tersebut di antaranya membahas tentang pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

"Presiden banyak sekali menjelaskan tentang pembangunan di Papua, ketika sekarang banyak sorotan HAM di Papua. Jadi pertama sekarang prioritasnya pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur tanpa bermaksud mengabaikan itu. Pada waktunya Presiden akan menyelesaikan juga," kata Gomar Gultom di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin 31 Juli 2017.

Tak hanya itu, pada pertemuan ini, Jokowi juga membahas tentang pesatnya pembangunan infrastruktur yang saat ini tengah dilakukan oleh pemerintah. Jokowi pun meyakini pembangunan infrastruktur ini memberikan efek positif pada peningkatan daya saing Indonesia, khususnya daya saing dengan negara tetangga.

"Untuk itu, oleh karena keterbatasan APBN terserap banyak untuk membayar bunga utang, maka mau tidak mau pemerintah harus menempuh investasi, mengundang investasi," ujar Gomar Gultom.

Jokowi juga membahas utang negara yang belakangan ini ramai diperbincangkan. Gomar Gultom mengatakan, Jokowi juga sempat bercerita tentang utang pada pertemuan ini. Besarnya utang negara saat ini tidak terlepas dari warisan utang pada masa lalu.

"Juga menyangkut utang negara yang mau tidak mau harus jalan. Tapi beliau jelaskan apa yang sekarang ini sebenarnya akumulasi utang yang diwarisi beliau dan bunganya cukup besar, mengembang, menambah utang itu," kata Gomar Gultom.

Kondisi utang di Indonesia pun diyakini tidak mengkhawatirkan. Sebab, pesatnya pembangunan infrastruktur nantinya juga akan memberikan efek positif bagi pemasukan negara dalam jangka panjang.

"Sehingga sebetulnya tidak terlalu mengkhawatirkan dengan kondisi utang tidak seperti digambarkan medsos selama ini," ujarnya.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan mencatat, utang pemerintah pusat sampai dengan Juni 2017 mencapai sebesar Rp3.706,52 triliun. Jumlah utang ini terdiri dari Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp2.979,50 triliun (80,4%) dan pinjaman sebesar Rp727,02 triliun (19,6%).

Dibanding bulan sebelumnya, utang Pemerintah Pusat Juni 2017 secara neto meningkat sebesar Rp34,19 triliun. Utang ini berasal dari penerbitan SBN (neto) sebesar Rp35,77 triliun dan pelunasan pinjaman (neto) sebesar Rp1,59 triliun.

Warisan utang ini tentunya menjadi beban tersendiri bagi pemerintah. Wajar saja, sebab pemerintah harus membayar utang senilai Rp250 triliun setiap tahunnya.

"Untuk membayar utang saja setiap tahun itu Rp250 triliun. Jadi kalau 3 tahun tambah utangnya itu sudah Rp750 triliun, untuk bayar utangnya saja. Nah sekarang ini kisaran (utang) ada Rp3.600-an (triliun). Jadi sebenarnya utangnya kecil sekali pemerintah ini," kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin, 24 Juli 2017 lalu.

Mengekor Terpuruknya Pemilik Indomart, Laba Bersih Induk Alfamart Anjlok 16,38%

Meski mengalami penurunan pada laba, namun pendapatan perseroan naik menjadi Rp30,53 triliun dari Rp26,87 triliun.

Penurunan pada laba dikarenakan beban pokok pendapatan naik menjadi Rp24,62 triliun pada kuartal II-2017 dari sebelumnya Rp 21,8 triliun.

Beban penjualan dan distribusi naik menjadi Rp5,16 triliun dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp4,32 triliun, beban umum dan administrasi naik menjadi Rp619,3 miliar dari Rp574,9 miliar.

Total liabilitas perseroan naik menjadi Rp18,5 triliun dari Rp14,17 triliun. Ekuitas perseroan naik menjadi Rp5,17 triliun dari Rp5,29 triliun. Sehingga total liabilitas dan ekuitas menjadi Rp23,68 dari sebelumnya Rp19,47 triliun.

Total aset perseroan periode Juni 2017 sebesar Rp23,68 triliun dari periode Desember tahun lalu Rp19,47 triliun. Laba per saham perseroan turun menjadi 1,82 per saham dari sebelumnya 2,18 per lembar saham.

Sebelumnya, pemilik minimarket Indomaret, PT lndoritel Makmur Internasional Tbk (DNET), mengalami kerugian yang cukup besar. Tercatat, laba DNET anjlok hampir 71,4% di semester I-2017.

Tercatat, DNET mengalami rugi bersih mencapai Rp30,5 miliar di semester I-2017.

Cuma Naik 2,68%, Pelindo I Berhasil Cetak Laba Bersih Rp355 Miliar

Melansir keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia (BEI), laba bersih perseroan pada Semester I-2017 ini sebesar Rp355,65 miliar. Adapun laba bersih Pelindo I pada periode yang sama di tahun sebelumnya, adalah sebesar Rp346,43 miliar.

Kenaikan laba bersih ini, tidak terlepas dari kenaikan pendapatan usaha perseroan menjadi Rp1,29 triliun dari sebelumnya Rp1,16 triliun. Selain itu, laba per saham juga mengalami kenaikan menjadi Rp209,2 dari sebelumnya Rp203,7.

Adapun rugi selisih kurs Pelindo I, tercatat mengalami penurunan menjadi Rp708,20 juta dari sebelumnya Rp5,10 miliar. Pelindo I juga berhasil mencetak laba penyertaan sebesar Rp803,05 juta dari sebelumnya rugi Rp1,42 miliar.

Di sisi lain, utang perseroan tercatat mengalami penurunan menjadi Rp2,76 triliun dari sebelumnya Rp3 triliun. Utang tersebut, terdiri dari utang jangka pendek sebesar Rp1,24 triliun dan utang jangka panjang sebesar Rp1,52 triliun.

Selain itu, Pelindo I juga mencatatkan penurunan jumlah aset menjadi Rp7,2 triliun dari sebelumnya Rp7,3 triliun. Aset tersebut, terdiri dari aset lancar sebesar Rp2,43 triliun dan aset tidak lancar sebesar Rp4,77 triliun.

(Rizkie Fauzian)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement