Share

Bursa Efek Indonesia Jadi Rujukan Pasar Modal Syariah Dunia

Sabtu 16 September 2017 05:03 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 15 278 1776770 bursa-efek-indonesia-jadi-rujukan-pasar-modal-syariah-dunia-rgqh6DtB5W.jpg Ilustrasi BEI. (Foto: ANT)

JAKARTA – Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Bursa Efek Indonesia (BEI) bisa menjadi rujukan pasar modal di dunia. Keberhasilan BEI memajukan industri pasar modal syariah nasional diakui di dunia internasional lewat penghargaan dari Global Islamic Finance Award (GIFA) untuk kategori The Best Supporting Institution for Islamic Finance of the Year 2017.

BEI merupakan satu-satunya institusi dari Indonesia yang menerima penghargaan dari GIFA selama dua tahun berturut-turut setelah di 2016 memenangkan penghargaan yang sama. GIFA merupakan salah satu penghargaan internasional di industri keuangan syariah dunia yang diselenggarakan oleh EdBiz Consulting yang berkantor pusat di London.

GIFA 2017 adalah yang ketujuh sepanjang penghargaan ini diadakan. Penghargaan diterima Direktur Utama BEI Tito Sulistio di Tiongkok awal September dari CEO Edbiz Consulting Dr. Sofiza Azmi.

Sejak peluncuran Reksa Dana Syariah pertama kali pada 1997 sebagai tonggak sejarah Pasar Modal Syariah, Pasar Modal Syariah Indonesia sampai saat ini telah memiliki dua indeks saham syariah yakni Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan Jakarta Islamic Index (JII), 342 saham syariah, 16 fatwa dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), 9 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan satu Undang-Undang Sukuk Negara (SBSN).

Selain itu, Pasar Modal Syariah Indonesia juga telah memiliki 12 Anggota Bursa yang memiliki sistem perdagangan online syariah (Syariah Online Trading System/SOTS), dan empat Jenis Efek Syariah (Saham Syariah, Sukuk, Reksa Dana Syariah, Exchange Traded Fund Syariah).

BEI juga telah memiliki 36 Galeri Investasi Syariah di 35 universitas. Jumlah tersebut merupakan yang terbanyak di seluruh dunia. Dari sisi pertumbuhan jumlah investor, persentase investor syariah terhadap total investor di Pasar Modal Indonesia juga terus mengalami peningkatan dalam jumlah yang signifikan. Jika di 2014 persentasenya baru mencapai 0,7%, maka di 2015 meningkat menjadi 1,1%, dan 2,3% pada 2016, hingga mencapai 3,1% per Agustus 2017.

Secara persentase, transaksi saham di BEI banyak didominasi saham-saham berbasis syariah. Sebanyak 62% saham yang ditransaksikan di BEI merupakan saham-saham berbasis syariah, atau 55% dari kapitalisasi pasar di BEI merupakan saham-saham syariah. Dilihat dari nilai transaksi saham, 56% nilai transaksi saham di BEI juga berbasis syariah.

Rata-rata pertumbuhan dari sisi volume, nilai dan frekuensi transaksi saham-saham berbasis syariah dalam lima tahun terakhir (2011 hingga Agustus 2017) jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan saham-saham non syariah. Untuk rata-rata pertumbuhan volume transaksi saham syariah 167,2% berbanding 130 persen non syariah.

Pertumbuhan nilai transaksi saham syariah dalam lima tahun terakhir mencapai rata-rata 70,7%, sementara rata-rata transaksi saham non syariah bertumbuh 25,4%. Sedangkan rata-rata pertumbuhan frekuensi transaksi saham syariah mencapai 185,7% persen berbanding 160,7% non syariah.

Untuk efek selain saham, seperti sukuk, nilai outstanding sukuk negara di BEI telah mencapai Rp310,38 triliun. Sedangkan outstanding sukuk korporasi nilainya mencapai Rp14,26 triliun. Pertumbuhan penerbitan Surat Berharga Negara Syariah di sepanjang 2015 hingga 2016 tercatat sebesar 61,9% atau melampaui pertumbuhan penerbitan Surat Berharga Negara Konvensional yang jumlahnya mencapai 31,9%.

BEI bersama dengan stakeholders akan terus melakukan sosialisasi dan edukasi publik agar produk serta jasa Pasar Modal Syariah dapat semakin beragam dan berdaya saing serta dapat semakin dikenal dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat luas.

Dengan semakin berkembangnya Pasar Modal Syariah di Indonesia diharapkan juga ke depannya industri ini dapat menjadi alternatif investasi yang aman khususnya bagi masyarakat Indonesia yang ingin berinvestasi sesuai dengan kaidah dan prinsip syariah, serta dapat berkontribusi secara nyata dan optimal dalam pertumbuhan dan perkembangan perekonomian nasional yang berkesinambungan.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini