Image

Kereta Semicepat Jakarta-Surabaya Berhenti di 3 Stasiun, Mana Saja?

ant, Jurnalis · Kamis 07 Desember 2017, 19:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 12 07 320 1826914 kereta-semicepat-jakarta-surabaya-berhenti-di-3-stasiun-mana-saja-ZYc54Ve3mr.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

YOGYAKARTA - Kereta Api Semicepat Jakarta-Surabaya direncanakan untuk berhenti di tiga stasiun. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

"Inginnya berhenti di dua stasiun, maksimal tiga, seperti Cirebon, Semarang dan satu lagi saya belum tahu," kata Budi di sela-sela Seminar Peningkatan kecepatan Kereta Api Koridor Jakarta-Surabaya di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Kamis.

 Baca juga: Pinjaman China Cair 15 Desember, Menteri Rini: 3 Tunnel Kereta Cepat Bandung-Jakarta Sedang Dikerjakan

Budi menjelaskan pemberhentian di stasiun-stasiun tersebut bukan tanpa tujuan, tetapi agar nikai keekonomian daerah masih bisa terjaga, bahkan meningkat dengan beroperasinya KA Semicepat Jakarta-Surabaya.

"Banyak simpul-simpul yang memiliki tiitk ekonomi di masing-masing kota, Brebes, Pekalongan, Tegal dan Semarang," tuturnya.

 Baca juga: Bangun Kereta Cepat, China Gelontorkan Rp62 Triliun untuk Konektivitas Wilayah Barat Daya

Menurut dia, nikai keekonomian daerah bisa ditingkatkan apabila KA Semicepat memanfaatkan jalur yang sudah ada atau eksisting.

"Kalau kita geser ke tempat lain, itu akan berubah, kita meninggalkan mereka yang sudah punya ketergantungan itu," ujarnya.

 Baca juga: Bitcoin Meroket 55% Sepanjang November, Berhenti di USD9.600

Selain itu, lanjut dia, apabila menggunakan jalur yang sudah ada, maka pembiayaan tidak akan membengkak.

Dia menuturkan Jepang telah menyampaikan usulan untuk membuat rel tambahan agar operasional KA jarak jauh dan KA Logistik tidak terganggu.

Namun, lanjut dia, hal itu menyebabkan biaya investasi yang akan membengkak hingga Rp90 triliun dari hitungan semula, yaitu Rp60 triliun.

Karena itu, Budi meminta kepada pihak Jepang melalui Badan Kerja Sama Internasional Jepang (Jica) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk melakukan kajian ulang karena harga proyek masih terlalu tinggi.

"Oleh karena itu, saya mendatangkan semua pihak, mendatangkan ahli dari Korea dan Jepang untuk berbagi ilmu, semua kita bahas agar pada saat membangun tidak lagi perdebatan mestinya begini, mestinya begitu," katanya.

Budi mengatakan revitalisasi Lintas Utara Jawa, Jakarta-Surabaya ini dirancang untuk beroperasi dengan kecepatan maksimal 160 kilometer per jam atau memangkas waktu dari sembilan jam menjadi 5,5 jam.

"Artinya satu hari satu malam kereta bisa bolak-balik, bis bersaing dengan pesawat, sehingga udara punya teman yang namanya kereta semicepat, selain itu kalau pakai mobil pribadi 'kan berisiko," imbuhnya.

Untuk rencana operasi, lanjut dia, ditargetkan pada 2020, namun bertahap Jakarta-Semaranng terlebih dahulu mengingat tidak mudah menggunakan jalur ekaisting karena harus membenahi 900 perlintasan sebidang.

Terkait kajian sosial, Budi mengatakan tidak banyak yang dilakukan, nantinya akan dibuat hunian-hunian berbasis transportasi atau "transit oriented development" (TOD).

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini