Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Butuh 10 Bulan untuk IHSG Bisa Pecahkan Rekor ke Level 6.000 di 2017

Martin Bagya Kertiyasa , Jurnalis-Selasa, 12 Desember 2017 |08:59 WIB
Butuh 10 Bulan untuk IHSG Bisa Pecahkan Rekor ke Level 6.000 di 2017
Ilustrasi IHSG. (Foto: Shutterstock)
A
A
A

JAKARTA - Tahun ini merupakan Bursa Efek Indonesia (BEI) memasuki usia ke 25 tahun, sejak berdirinya PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada 13 Juli 1992 silam. Sederet torehan prestasi pun diraih oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) antara lain pencapaian nilai transaksi hingga rekor tertinggi IHSG.

Okezone merangkum kinerja IHSG sepanjang 2017 ini beserta penerbitan obligasi yang terjadi BEI. Meskipun berhasil menembus level 6.000, namun torehan tersebut tidak mudah tercapai jika tidak ditopang bermacam-macam sentiment postif.

Sentimen pertama yang membantu IHSG menguat adalah pengakuan investment grade dari lembaga pemeringkat internasional Standart & Poo (S&P). Afirmasi ini lantas membuat IHSG melonjak ke level 5.800, yang merupakan level tertingginya kala itu.

Baca Juga: Kilas Balik IPO 2017, Pertama Kalinya BEI Kedatangan 35 Emiten Baru

Namun, IHSG baru mencapai target ketika Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akhirnya menyetujui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2018 yang dikombinasikan dengan laporan keuangan emiten yang gemilang, bahkan melebihi ekspektasi.

Emiten di sektor perbankan sektor perbankan pun didaulat menjadi motor utama pergerakan IHSG, setelah tiga emiten perbankan BUMN, PT Bank Mandiri (BMRI), PT Bank Negera Indonesia (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negera (BBTN), merilis laporan keuangan mencatatkan laba bersih double digit.

Berikut disajikan kembali pergerakan IHSG sepanjang 2017:

Kuartal I

Pada tiga bulan awal 2017 ini, IHSG dan nilai kapitalisasi pasarnya memang berkali-kali berhasil mencetak rekor. Pencapaian tertinggi level IHSG dan nilai kapitalisasi pasar BEI terakhir terjadi pada 30 Maret, setelah IHSG melaju mulus di level 5.592,95 poin dan Rp6.078 triliun.

Rata-rata nilai transaksi harian dalam juga berubah 2,21% menjadi Rp7,94 triliun dari Rp8,12 triliun, dan rata-rata frekuensi transaksi harian menjadi 4,45% menjadi 335,81 ribu kali dari 321,5 ribu kali transaksi.

Saat itu, total emisi obligasi dan sukuk yang sudah tercatat sepanjang 2017 adalah 14 emisi dari 13 emiten senilai Rp22,39 triliun. Dengan pencatatan ini maka total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 321 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp320,88 triliun dan USD67,5 juta, diterbitkan oleh 108 emiten.

Selain itu, Surat Berharga Negara (SBN) yang tercatat di BEI berjumlah 96 seri dengan nilai nominal Rp1.891,04 triliun dan USD1.240 juta, serta 7 emisi Efek Beragun Aset (EBA) dengan nilai Rp2,71 triliun.

Pencapaian kapitalisasi pasar tertinggi sebelumnya terjadi pada 8 November 2016 yakni sebesar Rp5.918,56 triliun. Dengan pencapaian ini BEI akan terus berupaya untuk menjadi Bursa terbesar di Asia Tenggara pada 2020 mendatang.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement