Image

Tantangan Pasar Modal di 2018, dari Pilkada hingga Persiapan Pilpres

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Kamis 28 Desember 2017, 17:11 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 12 28 278 1836991 tantangan-pasar-modal-di-2018-dari-pilkada-hingga-persiapan-pilpres-WCT8t69s0S.jpg Pasar Modal Indonesia (Foto: Antara)

JAKARTA - Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio memaparkan tantangan yang akan dihadapi oleh pasar modal Indonesia pada tahun 2018. Faktor-faktor yang menjadi tantangan tersebut berasal dari kondisi domestik maupun global.

Tito menjelaskan dari tantangan domestik adalah dengan masuknya 2018 sebagai tahun politik. Ia menyatakan politik memang tak mempengaruhi pergerakan pasar modal, namun Pemilihan Kepada Daerah (Pilkada) di 171 daerah bertepatan dengan agenda penting lainnya, yaitu bulan pajak yang jatuh pada Maret. Dia khawatir akan terjadi penarikan dana besar-besaran dari pasar modal maupun perbankan.

"Penarikan dana sekaligus dari 171 Pilkada, pembayaran pajak bulan Maret, ASIAN Games, persiapan Pilpres (Pemilihan Presiden) 2019 itu menjadi pertanyaan, bagaimana bursa tetap bisa mempunyai perusahaan-perusahan yang tercatat punya hasil yang baik," ujar Tito dalam acara Lunch Meeting dengan wartawan pasar modal di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (28/12/2017).

Baca Juga: BEI Perkirakan Aturan Penjatahan Saham IPO Kelar Kuartal I-2018

Kendati demikian, Tito meyakini pertumbuhan pasar modal akan semakin gemilang tahun depan. Salah satu sentimen positif yang mendorong pertumbuhan pasar modal tahun depan adalah kedatangan anak usaha Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang notabene memiliki kapitalisasi besar.

Dengan target minimal 35 perusahaan tercatat di pasar modal pada tahun 2018, hal ini juga semakin menguat pertahanan pasar modal dari tantangan domestik.

"Minimum listing kita 35. Pertahanan pasar modal kita menguat. Challanging memang tapi saya percaya masih positif," tukasnya.

Selain itu, tantangan global yang akan dihadapi adalah penilaian lembaga pemeringkat dunia yakni Standard and Poor's (S&P) serta dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).

"2018 nanti ada S&P yang menentukan rating kemampuan cash flow suatu negara. Satu lagi ada suatu patokannya itu MSCI, itu dia USD12,7 triliun ikut sama dia. Kita sekarang 2,2% itu ditentukan besarnya pasar," jelas dia.

Baca Juga: Datangi BEI, Sandiaga Puji IHSG Tembus 6.100

Sementara itu, China akan membuka pasar saham seri A di Shanghai dan Beijing. Langkah China ini dinilai akan semakin membesarkan pasar modalnya, sehingga menjadi tantangan bagi pasar modal di seluruh dunia.

Kemudian, sentimen global juga dipengaruhi oleh pelepasan saham oleh perusahaan minyak dan gas Arab Saudi, Aramco.

"Aramco akan listed Riyadh market cap USD1,2 triliun, itu bisa mendilusi jika kita tidak membesarkan pasar," jelas dia.

Baca Juga: Resmikan Videotron, Bos BEI Paparkan Tantangan Pasar Modal 2018

Oleh sebab itu, untuk meningkatkan kekuatan pasar modal Indonesia, Tito menyatakan BEI menargetkan kapitalisasi pasar mencapai Rp10.000 triliun pada 2019. Peluang tersebut masih ada, karena kapitalisasi pasar saham Indonesia dibanding dengan Gross Domestic Product (GDP) baru mencapai 47%, masih tertinggal dari Malaysia yang rasionya diatas 120% maupun Singapura yang melebihi 210%.

"Ini mimpi besar kita untuk mengejar ketertinggalan, dan kalau pun kita capai Rp10.000 triliun, kita baru capai 65% marketing cap dibanding GDP, jadi masih tertinggal," ungkapnya.

Selain itu perkembangan negara Asia lainnya dikatakan Tito akan sangat menantang. Pasalnya pasar modal di negara Asia lainnya seperti Filipina juga Vietnam makin ketat dalam pencarian modal di pasar global.

"Dengan potensi yang besar serta kepercayaan investor yang besar, tahun depan akan jadi sangat challanging, karena di tingkat internasional persaingan mencari modal sangat brutal. Bagaimana Arab mulai bergerak, China mulai membuka diri, Filipina berkembang. Vietnam bahkan bersiap-siap membuka diri. Ini sangat challanging," pungkasnya.

(ulf)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini