Image

Harga Minyak Naik, Sri Mulyani Yakin Tidak Ganggu APBN dan Pertamina

Lidya Julita Sembiring, Jurnalis · Senin 08 Januari 2018, 21:36 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 01 08 20 1841999 harga-minyak-naik-sri-mulyani-yakin-tidak-ganggu-apbn-dan-pertamina-77brgA1NEP.jpg Foto: Lidya/Okezone

JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan kenaikan harga minyak mentah Indonesia saat ini tidak berdampak bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018. Bahkan PT Pertamina (Persero) juga belum terguncang keuangannya dengan kenaikan tersebut.

Sri Mulyani menyatakan kenaikan saat ini justru menguntungkan bagi APBN hingga Rp2,2 triliun. Pasalnya harga minyak mentah di APBN 2018 dipatok sebesar USD48 dan naik menjadi USD50 dolar per barel artinya ada kenaikan USD2 per barel.

Baca Juga: ESDM Catat Kenaikan Harga Minyak Mentah Indonesia 2017 USD60/Barel

"Bahwa setiap kenaikan harga minyak itu menimbulkan efek yang positif terhadap APBN kita secara netto. Karena setiap USD1 kenaikan, menimbulkan total penerimaan sebanyak Rp1,1 triliun netto, sehingga dia akan memberikan dampak positif terhadap APBN kita," ungkap Sri Mulyani di kantornya, Jakarta, Senin (8/1/2018).

Selain itu ia melihat ini juga akan memberikan dampak baik bagi Pertamina karena neracanya akan dilihat.

Baca Juga: Konflik Iran Tekan Harga Minyak Dunia

"Kita sudah lihat di 2017, pressure terhadap mereka (Pertamina). 2016 mereka sudah mendapat untung karena mereka enggak adjust, padahal harga minyak jatuh waktu itu. Jadi itu dipakai untuk menjaga 2017. Rasanya dari neraca Pertamina cukup baik," jelasnya.

Baca Juga: Pemangkasan Produksi OPEC Berlanjut, Harga ICP Berpotensi Naik

Namun, Sri Mulyani melihat jika Pertamina harus ekspansi belanja modal cukup banyak di sana maka mungkin akan mendapatkan tekanan.

"Kalau hanya bicara current spending, its gonna be manageble. Untuk APBN bahkan kita untung kalau ICP tinggi. Kalau untuk capital spending mereka butuh support lebih. Kenaikan itu enggak menimbulkan persoalan sustianability atau kolaps dari neraca Pertamina dan APBN," tukasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini