Image

Penyebab Tingkat Kemiskinan Sulit Ditekan ke Single Digit

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Selasa 09 Januari 2018 21:43 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 01 09 20 1842610 penyebab-tingkat-kemiskinan-sulit-ditekan-ke-single-digit-Luh1HG3HdM.jpg Foto: Yohana/Okezone

JAKARTA - Tingkat kemiskinan di Indonesia pada tahun 2017 menunjukkan penurunan menjadi 10,12%. Lebih rendah dari tahun sebelumnya sebesar 10,70%.

Hal tersebut menjadi momentum bagi pemerintah untuk targetkan kemiskinan menjadi single digit yakni antara 9,5% sampai 10,0% pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) di 2018. 

Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN) Bambang Brodjonegoro mengatakan, penurunan tingkat kemiskinan di bawah angka 10% bukanlah hal mudah. Berbeda dengan penurunan tingkat kemiskinan di atas 10% yang lebih mudah dilakukan, penurunan di bawah 10% akan berjalan lebih landai.

Baca Juga:Daging Sapi Penyebab Kemiskinan, Menteri Bambang: Ini Fenomena Menarik

"Ini kita merujuk angka 10%. 10% ke bawah jangan harap penurunannya akan tajam. Seperti waktu kita menurunkan dari 16% ke 12%, tapi begitu masuk 12%,11%,10% dalam target 10% ke bawah, penurunannya akan lebih landai," ujar Bambang di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Jakarta, Selasa (9/1/2018).

Menteri yang juga menjabat Kepala Bappenas ini menjelaskan, penurunan tingkat kemiskinan di bawah 10% sulit dilakukan karena Indonesia masih memiliki indeks kedalaman kemiskinan dan keparahan kemiskinan yang meningkat dalam satu tahun terakhir. 

Adapun, indeks kedalaman kemiskinan pada tahun 2017 mencapai 1,79 meningkat dari tahun 2016 sebesar 1,74. Sedangkan untuk indeks keparahan kemiskinan berada di angka 0,46 lebih besar dari tahun sebelumnya 0,44.

Baca Juga: Penyebab Kemiskinan Menurun Versi Menteri Bambang

Bambang mengatakan, indeks kedalaman kemiskinan mengindikasikan rata-rata pengeluaran penduduk miskin yang cenderung menjauhi garis kemiskinan. Sementara itu, indeks keparahan kemiskinan mengindikasikan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin. 

"Karena tadi ada tingkat kedalaman keparahan yang masih harus diperbaiki. Ini harus diperbaiki melalui perbaikan program dan selain itu juga masih harus perbaiki program tepat sasaran. Jadi memang tidak mudah. Tapi kalau soal di bawah 10% ini kesempatan yang terbaik, tidak harus 9,5," tukas dia.

Baca Juga: Beras Pemicu Kemiskinan Terbesar, Menteri Bambang: Harga Harus Dijaga!

Oleh sebab itu, menurut Bambang, yang terpenting tak hanya menurunkan tingkat kemiskinan secara persentase namun pada penurunan jumlah masyarakat miskin secara absolut. Di mana secara absolut, angka jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan 26,58 juta jiwa di tahun 2017, jauh lebih rendah dari tahun lalu 27,76 juta jiwa.

"Tapi memang ini yang paling penting adalah menurunkan orang miskin, secara absolut itu paling penting. Sekarang jadi menurun banyak, ini yang jadi target kita," pungkasnya. 

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini