Image

Daging Sapi Penyebab Kemiskinan, Menteri Bambang: Ini Fenomena Menarik

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Selasa 09 Januari 2018 20:55 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 01 09 20 1842584 daging-sapi-penyebab-kemiskinan-menteri-bambang-ini-fenomena-menarik-4hTdhdGI6S.jpg Foto: Yohana/Okezone

JAKARTA - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan, ada fenomena menarik terkait komoditas yang menyumbang kemiskinan terbesar. Hal itu terjadi pada daging sapi yang mengalami tren kenaikan konsumsi.

Daging sapi tercatat mulai menjadi komoditas terbesar penyumbang kemiskinan sejak tahun 2016. Tercatat per September 2017 daging sapi menyumbang 5,71% di perkotaan, sedangkan di desa sebesar 2,83%.

Baca Juga: Penyebab Kemiskinan Menurun Versi Menteri Bambang

Kendati daging sapi menjadi salah satu penyumbang terbesar, Bambang melihat ada tren baru pada konsumsi daging yang menunjukkan ada perbaikan pendapatan pada masyarakat.

"Ada fenomena menarik, muncul daging sapi sejak September 2016. Di sinilah ada perubahan pola konsumsi yang baik yakni karena mungkin perbaikan income (pendapatan)," ujar Bambang di Kantor Bappenas, Jakarta, Selasa (9/1/2018).

Baca Juga: Beras Pemicu Kemiskinan Terbesar, Menteri Bambang: Harga Harus Dijaga!

Dia menjelaskan, selain adanya perbaikan pendapatan juga terlihat adanya kesadaran masyarakat terhadap perbaikan gizi dengan mulai mengkonsumsi daging sapi.

"Ini hal yang bagus, maka sapi bukan luxury goods (barang mewah) tapi jadi kebutuhan sumber protein lebih dari telur dan daging ayam," jelas dia.

Baca Juga: Rokok Penyebab Kemiskinan, Menteri Bambang: Jangan Anggap Enteng!

Adapun tingkat daging sapi berada di urutan ketiga di perkotaan pada tahun 2017, menggeser telur ayam yang pada tahun sebelumnya menempati posisi ketiga. Begitu pula dengan daging ayam dan mie instan yang ikut jatuh satu peringkat setelah adanya konsumsi daging sapi.

Selain itu, daging sapi di pedesaan sempat menempati urutan ketiga di tahun 2016, meski tahun 2017 turun ke peringkat 5 dari 6 komoditas yang ada.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini